Helat dari PON ke PON

PON XX yang digelar di empat lokasi di Papua resmi dibuka oleh Presiden Joko Widodo, Sabtu (2/10). Selain prestasi, banyak hal bisa dimanfaatkan dalam setiap helat PON termasuk menanamkan rasa kebangsaan dan menjujung tinggi fairness.

PEKAN Olahraga Nasional XX diikuti sekitar 6.500 atlit dan 3.300 ofisialĀ  yang digelar di empat klaster penyelenggaraan di Provinsi Papua (kota dan Kab. Jayapura, Kab. Mimika Kab. Merauke) secara resmi dibuka oleh Presiden Jokowi Sabtu, 2 Oktober.

Berbagai pertandingan dan perlombaan sudah berlangsung di sejumlah venue yang disiapkan sejak pekan lalu, sementara helat olahraga nasional itu akan berlangsung sampai 15 Oktober, dibuka di Stadion Lukas Enembe, Kab. Jayapura dan rencananya ditutup di tempat yang sama.

Tak kurang dari Rp10 triliun digelontorkan, baik dari APBN maupun APBD Pemprov Papua untuk mmbiayai penyelenggaraan PON XXĀ Ā  termasuk untuk membangun empat venue bertaraf internasional di Jayapura senilai Rp935,5 miliar.

Penataan Istora Lukas Enembe (ILE) dan Kawasan Arena Aquatik, kriket an hoki di Kampung Doyo Baru, Distrik Waibu, Kab. Jayapura menelan biaya Rp211,7 miliar, sementara Arena Akuatiknya sendiri Rp401 miliar, ILE Rp278,5 miliar dan arena dayung, panahan dan sepatu roda Rp128,2 miliar.

Arena aquatik yang dibangun misalnya, tidak kalah mentereng dari venue sama yang ada di Senayan, Jakarta, kecuali kapasitas penontonnya yang sedikit. PON XX mempertandingkan 37 cabang olahraga (cabor), 56 disiplin cabor dan 671 nomor pertandingan.

PON XX memiliki nuansa tersendiri karena digelar di tengah pandemi Covid-19 dan ancaman gangguan keamanan dari KKB. Yang terakhir, penyerangan ke sejumlah fasilitas umum dan Puskesmas Kiwirok, Kab. Pegunungan Bintang yang menewaskan seorang perawat dan melukai lima lainya (13/9).

Ibarat pepatah lawas ā€œSekali mendayung, tiga pulau terlampauiā€ helat akbar PON selain untuk menoreh prestasi olahraga, sejatinya juga bersifat multi manfaat jika memang diwacanakan dan direncanakan sejak awal.

Dari sisi prestasi, provinsi yang ditunjuk memiliki waktu empat tahun untuk membina atlit-atlitnya, tidak sekedar tampil karena mendapat prioritas selaku tuan rumah, tapi seharusnya menarget prestasi puncak di level nasional maupun dunia.

Demi Ikuti Lebih Banyak Cabor

Sejauh ini, pembinaan atlit mejelang PON oleh tuan rumah terutama cabang-cabang olahraga (cabor) yang kurang populer atau bukan andalan, agaknya hanya ditargetkan agar tuan rumah dapat mengikuti sebanyak mungkin cabor.

Selain prestasi, helat PON yang dihadiri ribuan atlit dan ofisial dari seluruh provinsi NKRI yang berbeda tampilan fisik, budaya dan adat istiadatnya bisa digunakan untuk ajang saling kenal, menghormati, Ā menjalin silaturahami dan merekat rasa kebangsaan, tidak saja antaratlit dan ofisial tetapi juga warga setempat.

Penyambutan yang tulus dan bersahabat perlu ditunjukkan oleh warga setempat, tentu sikap ā€œfriendly conductā€ seperti ini harus ditanamkan, misalnya melalui sekolah-sekolah, spanduk-spanduk, seruan di media dan lainnya.

Sikap ā€œfairnessā€ perlu ditanamkan pada para supporter, juga etika misalnya untuk tidak menghujat, membully atau mengolok-olok Ā pemain atau tim lawan. ā€œApplausā€ atau kekecewaan harus diekspresikan secara terukur dan beretika.

Dengan event-event yang dihadiri begitu banyak massa, bisa pula diselipkan edukasi terkait kebersihan, misalnya untuk tidak membuang sampah sembarangan atau menjaga kebersihan toilet-toilet umum.

Yang juga penting, begitu helat PON usai, jangan sampai venue-venue yang dibangun dengan ratusan miliar rupiah uang rakyat menjadi mangkrak, tidak dimanfaatkan untuk kegiatan dan pembinaan olahraga selanjutnya seperti yang terjadi di sejumlah ibukota provinsi bekas tuan rumah PON.

Sejatinya, banyak hal yang bisa diraih dalam setiap kali helat PON, jika semua difikirkan dan direncanakan sejak awal, mulai dari prestasi, pola hidup bersih, fairness dan merekatkan rasa kebangsaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement