PURWAKARTA – Pergeseran jembatan Cisomang berimbas pada meningkatnya angka kecelakaan di jalur alteri Bandung-Purwakarta, Jawa Barat, selama dua pekan.
Hampir setiap hari terjadi dua hingga tiga kasus kecelakaan lalu lintas di jalur arteri, dan diduga akibat pengalihan arus lalu lintas jalan Tol Cipularang karena bergesernya Jembatan Cisomang. Kecelakaan banyak didominasi kendaraan besar yang terjungkal dan menabrak pengendara sepeda motor.
“Kecelakaan terjadi karena kondisi jalan yang kurang baik dan para pengemudi banyak yang tidak mengetahui medan,” Kata Kanit Laka Lantas Polres Purwakarta Iptu Nur Arif, seperti dilansir metrotvnews, Jumat (13/1/2017).
Karenanya, untuk meminimalkan jumlah kecelakaan di jalur arteri Bandung-Purwakarta, Polres Purwakarta menambah rambu rambu lalu lintas dan menempatkan personel di beberapa titik rawan.
Unit Laka Lantas Polres Purwakarta merilis koban kecelakaan sebelum adanya pengalihan arus tercatat satu meninggal dunia, satu luka-luka, dan kerugian material Rp1 juta.
Setelah ada pengalihan arus, korban meninggal dunia tercatat enam orang, tiga luka berat, dan 4 luka ringan, dengan kerugian material Rp52 juta.
Sejak diberlakukan pembatasan kendaraan, PT Jasa Marga (persero) Tbk mengatakan ada penurunan volume kendaraan golongan II hingga V di Tol Cipularang, terutama di Jembatan Cisomang.
“Rata rata di atas 85 persen turunnya kendaraan golongan II – V,” kata AVP Corporate Communication Jasa Marga Dwimawan Heru saat konferensi pers di Jakarta, kemarin.
Sebaliknya, sambung Dwimawan, terjadi kenaikan pada kendaraan golongan I sebesar 4 persen. Namun, kenaikan itu tidak signifikan. Jasa Marga mencatat ada 37.600 kendaraan kecil menuju Bandung dari arah Jakarta di Tol Cipularang dan 32.600 kendaraan golongan I nonbus.




