Indonesia Tak Dilanda Gelombang Panas seperti Negara Tetangga, Berikut Penjelasan BMKG

Cuaca di Jakarta dan sekitarnya Mei terasa panas yang akan berlangsung sampai pertengahan Mei nanti akibat posisi awan di utara equator yang rendah sehingga optimal menyerap sinar mentari. ilustrasi

JAKARTA – Kondisi geografis Indonesia disebut menguntungkan sehingga tidak dilanda gelombang panas seperti yang dialami sejumlah negara tetangga yakni Vietnam, Laos dan Thailand.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BKMG) Dwikorita Karnawati mengungkap sejumlah kondisi geografis yang menguntungkan RI tersebut.

Wilayah Indonesia merupakan kepulauan, dengan lebih dari 60 persen-nya adalah lautan, bukan benua atau daratan yang luas.

“Sehingga fenomena heatwave yang berdampak pada peningkatan suhu udara sulit terjadi di wilayah Indonesia,” ucapnya, dilansir CNNIndonesia.com.

“Fungsi lautan itu sebagai pendingin, sehingga sulit untuk mengalami gelombang panas,” lanjutnya.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menambahkan kondisi yang dialami Indonesia saat ini hanya panas terik harian.

“Kalau melihat apakah sudah mengalami heatwave, saat ini di Indonesia tidak mengalami heatwave, ini adalah panas terik variasi harian,” ucapnya.

Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko menjelaskan suhu panas di wilayah Asia dipengaruhi salah satunya oleh gerak semu Matahari. Faktor yang mempengaruhi lainnya adalah pemanasan global.

“Para pakar iklim menyimpulkan bahwa tren pemanasan global dan perubahan iklim yang terus terjadi hingga saat ini berkontribusi menjadikan gelombang panas semakin berpeluang terjadi lebih sering,” ujarnya dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.

Gelombang panas, kata Urip, punya beberapa karakteristik. Pertama, gelombang panas umumnya terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah hingga lintang tinggi, di belahan Bumi bagian utara atau selatan.

Kedua, terjadi pada wilayah geografis yang memiliki atau berdekatan dengan massa daratan dengan luasan yang besar, atau wilayah kontinental atau sub-kontinental.

“Sementara wilayah Indonesia terletak di wilayah ekuator, dengan kondisi geografis kepulauan yang dikelilingi perairan yang luas.”

Ketiga, gelombang panas biasanya terjadi berkaitan dengan berkembangnya pola cuaca sistem tekanan atmosfer tinggi di suatu area dengan luasan yang besar secara persisten dalam beberapa hari.

Itu berkaitan dengan aktivitas gelombang Rossby di lapisan troposfer bagian atas. Dalam sistem tekanan tinggi tersebut, pergerakan udara dari atmosfer bagian atas menekan udara permukaan (subsidensi) sehingga termampatkan.

Alhasil, kata Urip, suhu permukaan meningkat karena “umpan balik positif antara massa daratan dan atmosfer.” Pusat tekanan atmosfer tinggi ini menyulitkan aliran udara dari daerah lain mengalir masuk ke area tersebut.

“Semakin lama sistem tekanan tinggi ini berkembang di suatu area karena umpan balik positif antara daratan dan atmosfer, semakin meningkat panas di area tersebut, dan semakin sulit awan tumbuh di wilayah tersebut.”

Keempat, sesuai standar Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), gelombang panas mesti ditandai dengan kenaikan 5º C dalam tempo lima hari berturut-turut.

Sementara, katanya, fenomena udara panas yang terjadi di Indonesia belakangan tidak termasuk ke dalam kategori gelombang panas.

 

Advertisement