JAKARTA – Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak akibat serangan yang disebut sebagai ‘teroris siber’ yang menyerang puluhan negara di dunia.
Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memastikan bahwa Indonesia termasuk salah satunya. Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kemenkoinfo, Sammy Pangerapan mengatakan serangan siber ini bersifat tersebar dan masif serta menyerang critical resource (sumber daya sangat penting).
“Serangan ini bisa dikategorikan teroris siber,” kata Sammy Pangerapan dalam keterangan yang dirilis di situs resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika, Sabtu (13/5/2017).
Di Indonesia, menurutnya, serangan peretas itu ditujukan ke Rumah Sakit Harapan Kita dan Rumah Sakit Dharmais di Jakarta
Serangan siber berskala raksasa yang menggunakan alat peretas yang diyakini dikembangkan oleh Badan Keamanan Nasional AS telah menyerang sejumlah institusi di 99 negara, termasuk Indonesia, Inggris, AS, Cina, Rusia, Spanyol dan Italia.
Pihaknya meminta agar masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kehati-hatian dalam berinteraksi di dunia siber.
Sammy menjelaskan serangan siber yang menyerang Indonesia dan beberapa negara lainnya berjenis ransomware. Ransomware adalah jenis malicious software atau malware yang menyerang komputer dengan cara mengunci komputer korban atau meng-encrypt semua file sehingga tidak bisa diakses kembali.
“Tahun ini sebuah jenis ransomware baru telah muncul dan diperkirakan bisa memakan banyak korban,” ungkap Sammy.
Diketahui serangan siber berskala raksasa yang menggunakan alat peretas yang diyakini dikembangkan oleh Badan Keamanan Nasional (National Security Agency, NSA) AS.
Otoritas terkait di berbagai negara telah berupaya mengamankan jaringan komputernya dengan memperbaharui sistem dari kemungkinan serangan peretas, sebagaimana dilansir BBC Indonesia.





