LONDON – Inggris pada hari Selasa (29/8/2017) mendesak Dewan Keamanan PBB untuk sidang guna membahas laporan tentang korban sipil massal yang dilakukan pasukan keamanan Myanmar melawan para pejuang Rohingya.
“Inggris meminta pertemuan #UNSC mengenai situasi di Burma besok. Perlu menangani masalah jangka panjang di #Rakhine, mendesak pengekangan oleh semua pihak,” kicau Matthew Rycroft, duta besar Inggris untuk PBB, di Twitter.
Pertemuan tersebut diharapkan berlangsung pada hari Rabu (30/8/2017).
Sementara itu Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada hari Senin mendesak Myanmar untuk memberikan akses ke badan-badan kemanusiaan.
“Sekretaris jenderal sangat prihatin dengan laporan warga sipil yang tewas dalam operasi keamanan di negara bagian Rakhine, Myanmar,” kata kantor Guterres.
Kantor Penasihat Negara Aung San Suu Kyi mengatakan dalam sebuah pernyataan jika serangan mematikan terhadap pos perbatasan pecah pada hari Jumat yang menewaskan satu tentara, 10 petugas polisi, seorang petugas imigrasi dan 77 orang yang diduga pejuang Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA),
Aljazeera melansir, laporan media muncul kemudian bahwa pasukan keamanan menggunakan kekuatan yang tidak proporsional dan mengungsikan ribuan warga Muslim Rohingya, menghancurkan rumah dengan mortir dan senapan mesin.
Data satelit yang diakses oleh badan hak asasi manusia dan dilepaskan pada hari Selasa menunjukkan kebakaran yang meluas di setidaknya 10 wilayah di negara bagian Rakhine, Myanmar.
Warga dan aktivis menuduh tentara menembak tanpa pandang bulu pada pria Rohingya yang tidak bersenjata, wanita dan anak-anak dan melakukan serangan pembakaran.




