Inggris Resmi “Hidup Baru”, di Luar UE

INGGRIS mulai Sabtu, 1 Februari 2020 resmi memulai “hidup baru”, berpisah dengan Uni Eropa (UE) beranggotakan 27 negara, walau masih terikat kesepakatan hingga 31 Desember 2020.

Brexit atau “British Exit” atau hengkang dari UE merupakan amanat mayoritas rakyat yang tercermin dari hasil referendum pada 2016 dengan perolehan suara 52 berbanding 48 persen untuk kemenangan pendukungnya.

Negosiasi Brexit antara pemerintah Inggris dan parlemen UE ternyata berjalan alot, karena kesepakatan yang dicapai keduanya beberapa kali ditentang parlemen Inggeris sendiri.

Baru kemudian di bawah pemerintahan PM Boris Johnson, para politisi pendukung Brexit dan Partai Konservatif mendapat kursi lebih banyak dalam pemilu, proses Brexit berjalan lebih lancar.

Rakyat pun terbelah dua, antara yang pro Brexit, khususnya penduduk kota-kota besar yang merasa nyaman jika Inggris tetap bernaung di bawah UE, juga negara konstituen yakni Irlandia Utara dan Skotlandia, sebaliknya warga kota-kota kecil yakin, dengan Brexit, lebih makmur.

Inggeris bergabung dengan Masyarakat Ekonomi Eropa (cikal-bakal UE) pada 1973 saat perhimpunan tersebut baru diikuti sembilan negara dan kemudian saat dilebur menjadi UE pada 1995 meningkat mejadi 15 negara.

Sebelumnya, saat didirikan pada 1957, MEE hanya diikuti enam negara yakni Belgia, Belanda, Itali, Jerman Barat, Luksemburg dan Perancis, kemudian pada 1973 masuk Denmark, Inggris dan Italia, Yunani (1981) serta Portugal dan Spanyol (1986).

Keanggotaan UE semakin meluas dengan bergabungnya sejumlah negara eks-Pakta Warsawa seperti Polandia, Hongaria, Slowenia dan Kroasia (eks-Yugoslavia), Ceko serta Slowakia, Bulgaria dan Rumania, juga sempalan Uni Soviet (Estonia,Latvia dan Lithuania) pada 2004, Austria, Swedia dan Finlandia (1995) serta Siprus dan Malta (2004).

Hengkangnya Inggris dari UE, mau tidak mau tentu sangat berarti, mengingat posisinya (catatan IMF) sebagai negara dengan produk domestik bruto (GDP) sebesar 2,7 triliun dollar AS lebih pada 2019 di rangking ke-6 terbesar dunia atau ranking ke-2 di Eropa setelah Jerman.

Harapan rakyat Inggris, tentunya agar pasca Brexit, kesejahteraan mereka meningkat, dan bagi warga dunia, agar kontribusi Inggeris bagi kesejahteraan dan perdamaian global semakin meningkat pula.

Waktu jua yang bakal menentukan nantinya, apakah pilihan Brexit, sudah tepat atau menjadi penyeslan.(AP/AFP/Reuters/ns)

Advertisement