SAMARINDA – Seorang remaja perempuan berusia 12 tahun, T, menjadi korban pemerkosaan belasan orang diduga sopir angkot di Samarinda, Kalimantan Timur, dan kini ia mengalami trauma berat.
Nining, ibu korban hanya bisa berulang kali menyuarakan permintaan tolong, kepolisian segera menangkap pelakunya, tanpa pandang bulu.
Menurutnya anaknya kini dalam penanganan pemulihan psikis dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kota Samarinda, karena mengalami trauma berat. Dia kerap kali ketakutan, jika bertemu orang lain, terlebih lagi yang baru dia kenal.
“Sekarang bertemu saya saja dia sudah tidak mau, Pak. Dia seperti orang menggigil ketakutan,” ujar Nining, Rabu (15/3/2017), dikutip dari merdeka.com.
Selama dalam penanganan KPAI, Nining berharap kelak psikologis anaknya bisa pulih, tidak lagi ketakutan bertemu dia, yang melahirkan dan membesarkannya selama 12 tahun ini.
Ayah korban, Aji Rusliansyah memastikan, dari penelusuran dia bersama keluarganya, para pemerkosa yang berjumlah 13 orang itu, hampir semuanya bekerja sebagai sopir angkot.
“Ya, hampir semuanya sopir angkot. Jadi mereka ini, diantaranya sering kumpul-kumpul di lokasi mangkal untuk mabuk-mabukan, dan narkoba. Tolong, ini harus segera diungkap kepolisian,” sebut Aji.
Sementara itu diberitakan Tempo, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) bersama Unit Kejahatan dan Tindak Kekerasan (Jataranras) Kepolisian Resor Kota Samarinda kini sedang memburu 5 orang terduga pelaku.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Samarinda Komisaris Sudarsono mengatakan, kepolisian telah melakukan pemeriksaan terhadap dua orang saksi termasuk korban.
Menurutnya polisi kini sudah mengantongi lima identitas terduga pelaku, yakni Ro, Ad, Ri, Lu dan Do. Kelima sopir angkot ini masih dalam proses pengejaran. “Saat ini tim gabungan PPA dan Jatanras sedang berupaya mengejar pelaku,” kata Sudarsono.
Dari pemeriksaan terhadap saksi, Sudarsono mengatakan, kejadian tersebut berlangsung pada bulan Januari 2017. Ro yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir angkutan kota (angkot) saat itu sedang sepi penumpang dan hanya membawa korban.
“Persisnya seperti apa masih kami dalami. Pelaku, Ro, membawa korban ke kawasan (stadion) Palaran dan melakukan perbuatannya di sana, di dalam angkot,” tutur Sudarsono.





