BURUNDI (KBK) – Reporter Al Jazeera, Mohammed Adow, melaporkan dari ibukota Burundi, Bujumbura, Sabtu (19/12/2015), dampak dari krisis politik serius di Burundi telah merusak ekonomi di negara itu dan menjadikan negara ini menjadi salah satu negara termiskin di dunia.
“Pengangguran meningkat dan dan begitu pula harga barang pokok,” katanya.
Pekan lalu, 87 orang tewas dalam kekerasan terburuk sejak beberapa bulan bersengketa karena naiknya Nkurunziza menjadi pemimpin yang ketiga, padahal konstitusi negara ini hanya mengizinkan presiden menjabat maksimal 2 periode.
Sebanyak 47 anggota Dewan HAM PBB setuju pada Kamis (17/12/2015) di Jenewa, Swiss, untuk mengirimkan ahli yang berkerja melaporkan secara teratur situasi hak asasi manusia di Burundi.
Setidaknya 400 orang telah tewas sejak protes terhadap jabatan presiden ketiga Nkurunziza mulai pada bulan April, dan hampir 3.500 telah ditangkap dalam krisis politik, menurut catatan tim HAM PBB.
Setidaknya 220.000 orang telah melarikan diri dari negara itu.
Meningkatnya kekerasan telah menimbulkan kekhawatiran akan kembalinya perang saudara, satu dekade setelah akhir 1993-2006 konflik antara pemberontak dari mayoritas suku Hutu dan tentara didominasi oleh minoritas Tutsi, yang telah membuat 300.000 orang tewas.
Ban Ki-moon, Sekjen PBB, memberi peringatan awal pekan ini bahwa Burundi berada di ambang perang saudara yang melanda risiko seluruh wilayah.





