Karomah Kiai Memikat Petani Jawa

Karomah (keajaiban suci) para kiai menjadi daya pikat yang dikagumi dan sekaligus ditakuti petani Jawa. Sekalipun dimasukkan kategori abangan atau Islam minimal oleh Clifford Geertz, petani Jawa tidak mau disebut non-Muslim. Apalagi, dicap ateis, walau dulu mereka pendudukung PKI (Partai Komunis Indonesia). Yang terakhir itu paling ditakuti pasca G30S, 1965, karena nyawa bisa melayang atau minimal ditahan, disamakan dengan PKI.

Walaupun kebanyakan mereka “belum” melakukan shalat lima waktu secara teratur, mereka menghormati para kiai.  Alasannya, berkat doa para kiai, mereka  merasa dilindungi Tuhan, demikian diungkapkan Prof. Dr. Muhammad Bambang Pranowo dalam buku “Memahami Islam Jawa”.

Istilah “belum” (dereng nglampahi)  sembahyang  (shalat), menurut Bambang Pranowo, lebih tepat ketimbang “tidak” (mboten nglampahi). Alasannya, Islamisasi di Jawa adalah sebuah proses. Dan, ketika berbicara tentang Islam, mereka lebih menekankan  aspek moralnya, ketimbang aspek ritualnya. Buktinya, sekalipun  “belum” atau bahkan “tidak” pernah shalat secara teratur, banyak warga desa yang ikut pengajian, karena mereka menganggap para kiai sebagai penuntun spiritual mereka.

Sejumlah kiai yang mempunyai karomah dianggap sakti. Bahkan, ada yang dianggap  sebagai “wali”, yakni orang suci yang dihormati dan ditakuti karena  bisa memberi berkah dan atau “kualat” (bencana). Wali dianggap memiliki ilmu “la duni”, tahu tanpa belajar. Dan, semua ucapannya bisa menjadi kenyataaan.

Demikian pula para santi, murid kiai. Santri di pesantren tidak saja belajar agama, tetapi juga seni bela diri (pencak silat).  Para penjahat di dipedesaan takut kiai dan santri. Bahkan, para dukun dan guru kebatinan pun menganggap ilmu kiai lebih tinggi.

Kiai yang dianggap sakti dan bertuah serta memiliki kemampuan “weruh sak durunging winarah” (bisa meramal sesuatu sebelum terjadi) disebut “Mbah” Kiai. Artinya, orang tua atau yang dituakan. Seorang “Mbah” dianggap sebagai “wong linuwih” (orang yang punya kemampuan lebih daripada manusia biasa).  Istilah “keren” nya, “clair voyance dan atau clairaudience).

Mereka yang belum sholat secara teratur juga disebut Islam “biren”. Artinya, setelah “rabi” (menikah), shalatnya “leren” (berhenti).   Pada waktu akad nikah mereka membaca kalimat  Syahadat. Mereka masih memerlukan Islam saat “slametan” dan ada keluarga yang meninggal dunia.

Kalimat Syahadat dianggap sangat sakral, sebuah mantra sakti. Di pedesaan Jawa hidup legenda yang berasal dari dunia pewayangan (Hindu) tentang “Jimat Kalimosodo”. Alkisah, Prabu Puntadewa, sulung Pandawa dan raja Amarta, sehabis perang Bharatayudha dilanda gundah gulana karena ia satu-satunya Pandawa yang masih hidup. Keempat saudaranya, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, sudah meninggal dunia.

Berkat “Jimat Kalimasada” yang diselipkan di mahkotanya, Puntadewa tidak bisa mati. Ia sendiri tidak bisa membaca azimat itu. Lalu, ia mengembara sampai bertemu Sunan Kalijaga, seorang wali yang sangat berpengaruh pada orang Jawa. Puntadewa minta tolong Sunan Kalijaga agar ia bisa segera mati.  Setelah Sunan Kalijaga membuka dan membaca azimat itu, ternyata Kalimat Syahadat, Puntadewa langsung wafat. Dari bunyinya, “Kalimosodo” mirip  Kalimat Syahadat, kan? Karena itu, orang Jawa, baik santri atau abangan, saat mau meninggal dibimbing untuk membaca “La illaha ilallah”.

Memang pratik Islam di pedesaan Jawa banyak dipengaruhi unsur-unsur pra-Islam, bercorak mistik dalam teologinya. Karena alasan itu, Muhammadiyah bertekad memberantas penyakit TBC (tahyul, bidah dan churafat) yang diidap Muslim tradisional di pedesaan.

 

Advertisement