JOMBANG – Kasus kekerasan anak terus meningkat, bahkan di tahun 2016 pada kasus korban kekerasan seksual anak, jumlahnya sudah mencapai sekitar 358 anak, karenanya kasus tersebut perlu mendapat perhatian khusus.
Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menjelasnkan bahwa dari beberapa hasil riset, menyebutkan bahwa anak-anak yang mengalami trauma kekerasan apapun bentuknya, akan tumbuh dengan pelbagai masalah perilaku. Mulai dari kecemasan, depresi, agresi, hingga pemberontakan.
Menurut Khofifah maraknya kasus kekerasan seksual anak, yang sebagian besar terjadi karena beberapa faktor seperti konten video porno, minuman keras dan narkoba serta pergaulan yang kontra produktif.
“Akses informasi yang mudah dan teknologi yang semakin canggih, memudahkan anak-anak dalam mengakses konten pornografi dan pola pergaulan yang kurang positif. Ini warning bagi semua orang tua. Jangan cuek dan gagap teknologi,” imbaunya, di Jombang, Minggu (5/3/2017).
Orangtua diharapkan tidak gagap teknologi (gaptek) dan membiarkan anaknya berkomunikasi via media sosial tanpa pengawasan sheingga tidak sedikit anak berkenalan dengan ‘predator’ seksual. Dia dijebak, dirayu, digoda, sehingga menjadi korban kejahatan seksual.
Jumlah anak menjadi korban eksploitasi seksual yang masuk dalam catatan Kemensos, cukup banyak dalam setahun. “Di tahun 2016, sebanyak 258 korban kekerasan seksual masuk dalam catatan dan jangkauan Satuan Bhakti Pekerja Sosial, serta 100 korban melapor melalui telepon Sahabat Anak. Dua-duanya di bawah koordinasi Kemensos.” paparnya.
Ia mendorong keluarga sebagai ujung tombak ketahanan nasional dan terus mengawal pola tumbuh-kembang anak sebagai generasi penerus bangsa. “Mari kita wujudkan baitiii jannati (rumahku adalah surgaku),” tandasnya.





