Keamanan Pekerja di Papua Harus Diprioritaskan

Ilustrasi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya menyerang dan menewaskan 14 pekerja PT Istaka Karya yang sedang mengerjakan proyek jembatan Kali Yaurak dan Kali Yigi, Kab. Nduga, Papua (2/12)

TEKAD pemerintah untuk meneruskan pembangunan sarana dan prasarana di Papua di tengah terjadinya gangguan keamanan yang menelan korban jiwa perlu diapresiasi, namun mitigasi potensi ancaman nyawa bagi para pekerja harus diprioritaskan untuk menghindari kejadian yang sudah berulang-uang itu.

Sejauh ini paling tidak dilaporkan 14 pekerja PT Istaka Karya (PT IK) di wilayah Kab. Nduga, tewas ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya, Minggu lalu (2/12).

Para pekerja yang berasal dari luar wilayah Papua tersebut sedang mengerjakan konstruksi jembatan Kali Yigi dan Kali Yaurak di Kab. Nduga,Papua. Delapan pekerja lain yang berada di lokasi lain dilaporkan selamat dan berlindung di rumah seorang anggota DPRD Nduga di Kampung Karoptok.

Seluruhnya ada 25 pekerja PT IK yang disandera di kawasan Gunung Kaboh, distrik Yigi, Kab. Nduga, 14 orang diantaranya tewas tertembak, dan dari 11 orang yang mencoba melarikan diri, tiga orang diburu dan kemudian dibunuh, dua lagi ditemukan tewas, dua belum ditemukan dan empat orang berhasil dievakusi walau tiga diantaranya mengalami luka tembak.

Selang sehari kemudian, Senin (3/12) kelompok yang sama berkekuatan sekitar 40 orang menyerang pos pengamanan TNI di Distrik, Mbua, Kab. Nduga, merenggut nyawa Sersan Handoko dan seorang rekannya mengalami luka tembak.

Berdasarkan penuturan Plt Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua Fritz Ramandey, kelompok Kogoya menyerang para pekerja PT IK karena mencurigai, mereka adalah petugas intelijen. Anggota KKB tersebut berang setelah seorang pekerja PT IK mengambil foto upacara HUT kemedekaan Papua yang sedang mereka lakukan.

Pemilihan gubernur Papua yang digelar pada 27 Juni lalu juga sempat tertunda akibat gangguan keamaman berupa penembakan atas pesawat terbang yang mengangakut logistik Pilkada tersebut. Pemungutan suara hanya berlangsung di tiga distrik, sementara di 29 distrik lainnya batal.

Penembakan terhadap pekerja pembanguna parsarana di Papua bukan kali ini saja, karena sejak 2012 saja tercatat tujuh kali peristiwa yang merenggut belasan nyawa, belum termasuk anggota TNI dan Polri yang gugur.

Kondisi geografis dan akses yang kurang baik, menurut Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Mustofa, menyulitkan evakuasi karyawan PT IK yang menjadi korban penembakan KKB tersebut.
Dibutuhkan enam sampai tujuh jam berkendara dari Wamena ke Distrik Mbua yang berjarak 90 km karena ruas jalan yang diaspal baru 40 Km, dan dari Mbua ke Yigi harus ditempuh bejalan kaki.

Presiden Jokowi sendiri mengakui, Kab. Nduga yang pernahdikunjunginya memang termasuk salah satu daerah rawan konflik, namun demikian, Presiden menegaskan, pembangunan infrastruktur di wilayah itu tetap berlanjut.

“Pemerintah tidak akan berhenti membangun hanya karena gangguan keamanan dan TNI serta Polri akan turun untuk mengawalnya, “ kata Jokowi menegaskan.

Pemerintah memang tidak harus takluk oleh aksi-aksi KKB, namun demikian, kewaspadaan, terutama aparat keamanan, tentu harus ditingkatkan agar tidak ada lagi nyawa terbuang sia-sia akibat ulah mereka. (Kompas/NS)

Advertisement