KUDUS –Kelangkaan gas elpiji 3 Kg kembali terjadi di beberapa daerah di Jawa Tengah, salah satunya di Kudus.
Warung yang menjual elpiji kemasan tabung melon itu bahkan sampai kehabisan stok karena adanya keterlambatan pengiriman pasokan.
Hal ini meresahkan masyarakat yang kesehariannya menggunakan tabung elpiji kemasan 3 kg untuk memasak.Seperti yang dialami Budi, warga Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus.
Dia membawa dua tabung gas 3 kg kosong di atas motornya dan berkeliling mencari warung bahkan sampai ke pangkalan. Namun, tetap tidak mendapatkannya.
”Saya sudah muter-muter. Kalau ada yang jual gas saya berhenti, dan selalu bilang habis. Saya coba ke pangkalan juga ditolak,” katanya seperti diberitakan JPNN, Kamis (8/9)
Lantaran sudah sepekan tak mendapatkan gas elpiji, ia terpaksa menggunakan cara lama, yakni dengan kayu bakar.
“kalau tidak dapat terpaksa membuat pawon pakai kayu. Dua tabung yang saya bawa ini sudah habis sejak satu minggu lalu,” terangnya.
Sementara itu, Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Pemkab Kudus, Sofyan Dhuri mengatakan bahwa kelangkaan gas elpiji 3 kg tidak hanya terjadi di Kota Kretek itu. Pasalnya, kelangkaan itu justru akibat kebijakan Pertamina.
Pada September ini alokasi gas 3 kg dikembalikan seperti seperti Mei, yakni 601.160 tabung. “Bulan Juni lalu karena puasa dan Juli Lebaran, stok ditambah sekitar 22 ribu tabung. Untuk mencukupi sampai akhir Desember, Pertamina memberi alokasi normal kembali,” jelasnya.
Padahal, pada September ini banyak orang yang punya gawe dan syukuran haji. Inilah yang menyebabkan kekosongan gas. Sofyan mengatakan, alokasi dikurangi tapi permintaan bertambah.
”Untuk pantauan harga masih tergolong normal. Sampai di pengecer kurang lebih Rp 20 ribu sampai Rp 22 ribu per tabung,” katanya.
Bahkan ada yang menjual dengan harga Rp 25 ribu. “Tapi wilayah pinggir kota, seperti Desa Colo, Kecamatan Dawe, dan wilayah Kecamatan Undaan,” terangnya.





