Ketika Orang Tua Keluhkan Ketidakadilan Pendidikan Anaknya

Ilustrasi/ selasar.com

GOWA – Merasa kesal karena anak-anaknya yang memiliki nilai tinggi Ujian Nasional (UN) SMP, tidak lolos dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online, ratusan orangtua melakukan aksi penyegelan terhadap
SMAN 1 Bajeng, Gowa, Sulawesi Selatan.

Mereka kecewa dengan pihak sekolah yang tidak meloloskan ratusan calon siswa, dan meloloskan calon siswa yang memiliki nilai rendah UN SMP.

Penyegelan dilakukan dengan menutup pintu gerbang sekolah menggunakan kayu dan bambu. Mereka juga memasang sejumlah spanduk berisikan tulisan protes.

“Kami kesal, banyak calon siswa yang pintar dan memiliki nilai hasil UN SMP tinggi yang tidak diloloskan masuk, sementara yang diterima adalah calon siswa bernilai rendah,” ujar salah satu orangtua calon siswa, Ismail, dilansir Pojoksatu, Selasa (28/6/2016).

Menurutnya, aksi ini akan terus dilakukan oleh warga sekitar sekolah hingga pihak sekolah menerima anak mereka masuk bersekolah. Seperti diketahui, saat ini PPDB sedang berlangsung di sekolah-sekolah negeri se-Indonesia. Para calon siswa mendaftar dan memilih sekolah mereka dengan sistem PPDB online.

Sementara itu di kota Batam, sejumlah orang tua murid juga mulai kesal dengan tindakan pungli oknum dari sekolah negeri di kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Pasalnya untuk bisa lulus, mereka diminta uang pelicin dengan alasan uang tersebut akan digunakan untuk biaya bina lingkungan membuka lahan dengan tujuan bangun ruang kelas baru.

“Ya, kami diminta uang sebesar Rp 1,75 juta agar bisa masuk ke SMPN 12. Katanya untuk bangun ruang kelas baru,” ujar salah seorang wali murid, Surya Pardi, seperti dikutip dari batampos.

Kepala Sekolah SMPN 12, Zurnelis yang dimintai tanggapannya tentang hal ini memberikan jawaban yang tidak jelas. Ia mengaku tidak tahu mengenai uang bina lingkungan tersebut.

“Mungkin itu hasil kesepakatan komite dan RT RW setempat. Kami dari pihak sekolah tak tahu mengenai hal tersebut,” ujarnya.

Advertisement