Purwakarta-Tinggi Muka Air (TMA) Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat telah melebihi batas maksimum dengan kondisi melimpas , akibat dari Waduk Cirata yang telah menggelontorkan air di atas batas maksimum.
Dengan melimpasnya air Waduk Jatiluhur tersebut, pihak pengelola mulai siaga dan melakukan langkah-langkah, di antaranya dengan menggelontorkan air ke hilir sekitar 450 meter per detik, serta mengaktifkan enam turbin atau generator pembangkit listrik.
Selain itu, pengelola juga telah berkoordinasi dengan pihak Waduk Cirata dan juga Waduk Saguling dalam menahan serta menggelontorkan air bendungan.
Seperti diberitakan Elshinta, Senin (14/11), Direktur Pengelolaan Air Waduk Jatiluhur, Hari M Sungguh mengatakan, tinggi muka air Waduk Jati luhur saat ini telah mencapai batas maksimum, yaitu 107.75 meter dengan menggelontorkan air ke hilir sebanyak 450 meter kubik per detik, dimana kondisi air waduk tersebut dalam keadaan di atas normal, yaitu 107 meter dengan air yang digelontorkan ketika normal sebanyak 250 meter kubik per detik.
“Saat ini air Waduk Jatiluhur dalam keadaan limpas akibat dari permukaan air bendungan Cirata telah melebihi batas normal juga, yaitu 643, 84 meter dengan air yang dikeluarkan sebanyak 775 meter kubik per detik, sehingga berdampak pada terendamnya rumah-rumah warga yang terdapat di sepanjang pinggiran Waduk Jatiluhur,” kata dia.
Dengan kondisi ketinggian air terus meningkat, pihak pengelola juga sangat khawatir. Karena dengan digelontorkannya air dari Waduk Jatiluhur semakin banyak, ditambah dengan pertemuan air dari Cibeet, menurut Hari tentunya akan berdampak terjadi banjir di hilir, yaitu daerah Karawang dengan Bekasi.
Hari menambahkan bahwa Waduk Jatiluhur apabila TMA-nya dalam keadaan normal, dapat menyimpan air dengan kapasitas 2,5 juta meter kubik. Saat ini waduk sudah tidak dapat menampung lagi air yang digelontorkan dari Saguling dengan Cirata, maka sejak dua hari lalu airnya telah melimpas sekitar 75 cm.





