BOGOTA—Pemerintah Kolombia dan kelompok pemberontak FARC menandatangani kesepakatan gencatan senjata bersejarah, yang bakal membawa mereka mengakhiri konflik lebih dari lima dekade.
Kesepakatan ini dipandang sebagai salah satu langkah terakhir sebelum perjanjian damai secara penuh ditandatangani yang diharapkan dalam beberapa pekan ke depan.
Disitat dari BBC, Presiden Kolombia dan pemimpin FARC berjabat tangan setelah kesepakatan gencatan senjata yang digelar di ibu kota Kuba, Havana, semenjak perundingan damai digelar sejak tiga tahun silam. Diperkirakan 220.000 orang tewas dan tujuh juta orang mengungsi akibat perang selama 50 tahun ini.
FARC adalah kelompok pemberontak sayap kiri terbesar di Kolombia. Kelompok itu dibentuk pada 1964 dengan tujuan menggulingkan pemerintah dan mengukuhkan rezim Marxisme.
Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos mengatakan penandatanganan gencatan sejata merupakan “hari bersejarah”.
“Kami akhirnya mengakhiri konflik lebih dari 50 tahun kematian,” katanya. “Inilah akhir konflik bersenjata dengan FARC.”
Adapun pemimpin FARC, Rodrigo Londono – yang dikenal dengan sebutan Timochenko – mengatakan: “Biarlah ini menjadi hari terakhir perang.”
Sejumlah kesepakatan yang ditandatangani Pemerintah Kolombia dan FARC antara lain menyebutkan:
- Pemberontak FARC berkomitmen akan meletakkan senjata dalam waktu 180 hari setelah kesepakatan perdamaian
- Adanya zona transisi sementara serta kamp-kamp untuk sekitar 7.000 anggota pemberontak FARC.
- Warga sipil tidak diizinkan memasuki kamp-kamp FARC demi keamanan anggotanya.
- PBB akan memonitor pelucutan senjata milik FARC.
Pada Desember 2014, FARC bersedia melakukan genjata senjata, tetapi kemudian melanggarnya dengan aksi serangan bersenjata yang menewaskan 11 tentara pemerintah. Aksi ini kemudian dibalas pembalasan serangan bom pasukan oleh pemerintah atas sejumlah posisi pemberontak.




