
NEW YORK – Penyelidik PBB mengungkapkan tentara Israel sengaja menarget warga sipil dalam penumpasan tahun lalu di Gaza terhadap orang-orang Palestina yang melancarkan protes mingguan.
Komisi Penyelidik Independen PBB terhadap Protes Gaza tahun 2018 yang beranggotakan tiga orang mengatakan akan menyerahkan laporannya kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada bulan Maret.
Dalam laporan tersebut ddisebutkan antara 30 Maret dan 31 Desember tahun lalu, 189 warga Palestina tewas dan lebih dari 6.000 demonstran tidak bersenjata ditembak oleh penembak jitu militer Israel di lokasi protes di dekat pagar pemisah di Gaza.
Komisi itu juga melaporkan empat tentara Israel terluka dalam demonstrasi-demonstrasi itu.
“Yang kami katakan adalah, mereka sengaja menembak anak-anak. Mereka sengaja menembak orang-orang cacat. Mereka sengaja menembak wartawan – dan mereka ditembak oleh penembak jitu yang mengetahui bahwa mereka adalah anak-anak, penyandang cacat dan wartawan, penembak jitu yang dilengkapi juga dengan pengintai berteknologi tinggi, yang sangat canggih, untuk mengetahui siapa yang ada di lapangan sana,” ungkap anggota komisi Sara Hossain, kepada VOA.
Namun Israel membantah laporan itu, menyebutnya “sandiwara yang tidak masuk akal” dan menilai laporan itu “bermusuhan, palsu dan bias.”
Penyelidik PBB menilai pemerintah Israel tidak bersedia bekerja sama. Menurut mereka, pihak berwenang Israel tidak menanggapi berulangkali permintaan akan informasi dan tidak memberi mereka akses ke Israel atau wilayah Palestina yang diduduki.
Akibatnya, penyelidik PBBÂ mengandalkan ribuan gambar dan rekaman yang dibuat demonstran, media dan pasukan Israel. Anggota komisi juga melakukan 325 wawancara dengan para korban, saksi dan sumber-sumber lain, termasuk organisasi non-pemerintah Israel, dan mengumpulkan lebih dari 8.000 dokumen.



