Korban Covid-19 Melonjak, Pengetesan Malah Turun

Kawasan industri khususnya di P. Jawa menjadi klaster baru penyebaran Covid-19, sebagian ditularkan pekerja yang membawa virus dari luar.

REKOR jumlah penambahan harian kasus positif Covid-19, Minggu (6/9) terjadi lagi, padahal  pengambilan specimen melalui rapid  dan swab test menurun.

Satgas Penanganan Covid-19 mencatat,  ada penambahan 3.444 kasus baru sehingga total kasus positif Covid-19 menjadi 194.109 orang,  meninggal 8.025 orang (bertambah 108 orang) dan yang sembuh bertambah 3.444 orang menjadi 138.575 orang.

Sebaliknya, jumlah orang yang dites pada hari yang sama hanya 13.225 orang atau positivity rate-nya ( pertambahan kasus positif dibanding  jumlah orang yang dites) 26,6 persen atau jauh diatas yang ditoleransi Badan Kesehatan Dunia (WHO) yakni di bawah lima persen.

Dari angka nasional pertambahan harian kasus positif Covid-19 (194.109), porsi terbanyak ada di DKI Jakarta dengan 1.176 kasus atau lebih sepertiganya, disusul Jawa Timur dengan 303 kasus).

Lonjakan kasus Covid-19 sangat mengkhawatirkan mengingat meluasnya klaster-klaster baru di lingkup industri terutama di Pulau Jawa, meningkatnya mobilitas warga dan ada kebijakan Pemda yang tidak konsisten.

Di kawasan industri Cikarang Barat, Bekasi, baru di dua pabrik saja akhir pekan lalu tercatat 313 kasus Covid-19  yakni 242 karyawan PT LG Electronics Indonesia dan 71 karyawan  Suzuki di  Tambun Selatan.

Pertambahan kasus-kasus baru di klaster industri juga terjadi di kawasan industri di Tangerang, Banten, di Kab. Bandung, Jawa Barat, Semarang di Jawa Tengah dan Rungkut, Surabaya, Jawa Timur.

Yang sulit diawasi adalah kepatuhan para karyawan industri terhadap protokol kesehatan di luar jam kerja saat mereka beraktivitas di lingkungan permukiman atau di tempat-tempat lainnya sepulang dari kerja.

Dengan masih banyaknya pelanggaran protokol kesehatan walau sudah dikenakan denda atau berbagai sanksi sosial seperti membersihkan fasilitas umum, push-up atau masuk peti jenasah, tampak sanksi hukum lebih keras perlu dipertimbangkan lagi.

Sementara pro-kontra juga muncul misalnya terhadap peraturan nomor kendaraan ganjil-genap di DKI Jakarta yang dianggap ikut memicu lonjakan kasus Covid-19 karena membuat lebih banyak warga berdesakan di atas transportasi umum.

Rencana Pemprov DKI Jakarta membuka bioskop, mengijinkan pedagang K-5 berjualan di sejumlah trotoar dan wacana pemanfaatan lajur jalan tol dalam kota untuk sepeda juga dianggap sejumlah kalangan sebagai kebjiakan yang bisa memicu lonjakan kasus Covid-19.

Koordinasi antarinstansi terkait dan pemda agar tidak jalan sendiri-sendiri, sanksi lebih tegas dan disiplin warga dituntut jika negeri ini ingin selamat dari outbreak pandemi Covid-19 yang sudah di depan  mata.

 

 

 

 

 

Advertisement