LOMBOK – Warga di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mengeluhkan meroketnya harga terpal dan tenda belakangan ini yang saat ini naik 100 persen dari harga normalnya.
Muhadar, salah satu korban gempa mengatakan meroketnya harga terpal ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah bersama instansi terkait lainnya.
Terpal maupun tenda yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk membuat pengungsian tidak semestinya harganya dibiarkan liar begitu saja. Harus ada kontrol dan pengendalian harga dilakukan oleh pemerintah.
“Harga terpal selangit, sudah di luar dari batas kewajaran. Ini tidak boleh dibiarkan begini. Kasihan masyarakat,” keluhnya.
Harga untuk satu terpal di Kabupaten Lotim saat ini cukup melambung jauh dari harga normalnya. Terutama yang dijual di sejumlah loket penjualan di beberapa titik, misalnya untuk ukuran 4×5 dijual seharga Rp200 ribu, ukuran 2×3 Rp150 ribu, ukuran 5×6 seharga Rp350 ribu. Selanjutnya untuk ukuran 7×8 seharga Rp580 ribu dan ukuran 10×10 seharga Rp950 ribu. “Intinya naik dua kali lipat, naik 100 persen,” sebutnya.
Hal senada disampaikan Sapoan. Menurutnya kondisi saat ini tidak semestinya dimanfaatkan oleh pedagang meraup untung. Pasalnya, hampir secara keseluruhan masyarakat mengalami musibah. “Tak apa-apa jika harga terpal ini naik. Tapi tidak terlalu melambung begini,” keluhnya.
Meski demikian, ia mengaku terpaksa tetap membeli karena memang saat ini benar-benar dibutuhkan untuk pembuatan tenda pengungsian. “Mau bagaimana lagi, tetap kita beli,”akunya, dilansir suarantb, Senin (27/8/2018).





