Korea dan Jepang Segera Tuntaskan Soal ‘Budak Seks’

Wanita Korea Selatan jadi korban 'budak seks militer Jepang, 1945 Foto:Kompas

SEOUL (KBK)-  Pimpinan Korea Selatan dan Jepang akan duduk bersama di Tokyo untuk membahas masalah wanita Korea Selatan yang dijadikan ‘budak seks’ tentara Jepang selama Perang Dunia II.

Hal itu disampaikan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, di Seoul, Jumat (11/12/2015).

Pada pertemuan ke-11 ini akan dibahas masalah wanita penghibur dan eufemisme yang dilakukan wanita Korea secara paksa melayani militer Jepang di rumah bordil.

Menurut Kementerian Luar Negeri Korsel, pertemuan direncanakan di Tokyo pada 15 Desember 2015.

Pihak dari Korea Selatan akan dipimpin oleh Lee Sang-Deok, Direktur Jenderal Urusan Asia Timur Laut di Biro Kementerian Luar Negeri, sementara pihak Jepang akan dipimpin oleh Kimihiro Ishikane, Direktur Jenderal Urusan Asia dan Oseania di Kementerian Luar Negeri Jepang.

Pertemuan ini dilaksanakan setelah Presiden Korea Selatan Park Geun-hye dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sepakat pada bulan lalu untuk mempercepat pembicaraan tentang masalah ini.

Park dan Abe bertemu di Seoul pada 2 November 2015 lalu, di sela-sela rapat pimpinan trilateral dengan Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang yang digelar di Seoul sehari sebelumnya.

Itu adalah pertemuan puncak antara Park dan Abe pertama kalinya, sebelumnya Park telah menolak untuk duduk bersama Abe karena sengketa sejarah terutama tentang perbudakan seks wanita Korea selama penjajahan Jepang atas semenanjung Korea tahun 1910-45.

Seperti dilaporkan Xinhua, Jumat (11/12/2015),  Korea Selatan telah meminta Abe untuk membuat permintaan maaf dengan tulus, tetapi Jepang menganggap masalah itu sudah selesai dengan adanya sebuah perjanjian pada Tahun 1965 yang telah menormalisasi hubungan diplomatik antara Seoul dan Tokyo.

Advertisement