Kuartal II 2026 Ekonomi Diprediksi Melambat

Pertumbuhan ekonomi Indonsia pada quartal II 2026 diprediksi melambat gegara dampak perang di Timur Tengah yang melonjakkan harga minyak dan juga pupuk. (grafik: SIndo)

NAIKNYA daya beli dan konsumsi masyarakat berkat pemberian THR jelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H ikut mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026.

Sekitar 144 juta pemudik pada lebaran 2026 yang bertebaran dengan berbagai moda transportasi ke seluruh wilayah di Indonesia juga berkontribusi besar meningkatkan perputaran uang di daerah secara sigifikan.

Sebut saja, usaha kuliner, oleh-oleh, ojol, transportasi, wisata dan prhotelan,  dan berbagai layanan jasa lainnya yang diberikan pada pemudik.

Namun begitu helat lebara usai, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mengalami perlambatan yang cukup signifikan gegara lonjakan harga minyak global, pelemahan kurs rupiah, hingga gangguan rantai pasok yang merupakan imbas perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

“Saya kira kalau dibandingkan year on year, pertumbuhan ekonomi Indonesia paling tinggi hanya lima persen di  kuartal II, karena imbas faktor global ini sudah mulai kena ke kita,” kata Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad kepada detikcom, Rabu (25/3).

Tauhid menjelaskan, setelah hari raya tingkat konsumsi masyarakat akan kembali normal bahkan cenderung sedikit melemah dari biasanya. Ini merupakan siklus tahunan karena masyarakat sudah menghabiskan banyak dana untuk keperluan hari raya.

Namun yang menjadi kekhawatiran saat ini adalah imbas konflik di Timur Tengah yang diperkirakan mulai terasa pada kuartal II nanti.

Sebab, banyak negara di dunia berpotensi mengurangi permintaan impor dari negara lain, termasuk dari Indonesia.

Kondisi ini berpotensi menurunkan ekspor komoditas nasional, yang secara langsung mengurangi pendapatan negara dan swasta, khususnya para eksportir.

“Dari sisi perdagangan internasional, itu pasti sudah mulai berkurang di kuartal kedua. Karena kan beberapa negara seperti Amerika, Timur Tengah, China, semua itu pasti mengurangi permintaan dengan kondisi ini. Tidak mungkin meningkatkan permintaan karena biaya lagi naik, karena biaya logistik baik BBM maupun hambatan rantai pasok,” jelasnya.

Pelemahan Nilai Tukar Rp

Di sisi lain, karena pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya logistik imbas konflik tadi, impor bahan baku produksi dalam negeri juga diperkirakan akan sangat terdampak.

Hal ini membuat biaya produksi naik cukup signifikan, yang akhirnya mendorong harga produk di tingkat konsumen ikut naik.

“Mereka nggak berani impor barang modal, barang baku penolong dan sebagainya. Jadi dari sisi ekspor-impor mengalami perlambatan,” terang Tauhid.

Sementara itu, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira memproyeksikan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal II 2026 nanti hanya tumbuh di kisaran 4,7-4,9 persen.

Hal ini utamanya disebabkan oleh pelemahan kurs rupiah, hingga inflasi energi dan pangan imbas tingginya harga minyak global.

“Untuk kuartal ke II 2026 diperkirakan ekonomi akan tumbuh 4,7-4,9% karena tekanan pelemahan kurs rupiah, inflasi energi dan pangan,” jelas Bhima.

Selain akibat lonjakan harga minyak mentah akibat penutupan Selat Hormuz yang jadi lintasan 20 persen angkutan minyak global,  dan sepertiga angkutan pupuk, membuat harga pangan juga ikut melonjak.

Selain faktor eksternal ini, Bhima turut menyoroti ancaman dari super El Nino yang diperkirakan berlangsung pada pertengahan 2026 ini.

Menurut dia, fenomena ini berpotensi menyebabkan kenaikan modal produksi bahan pangan, yang kemudian dapat memicu harga kebutuhan pokok.

“Perlu dicermati adanya super El Nino bersamaan dengan krisis bahan baku pupuk mengancam produksi pangan. Kita akan hadapi cost of living crisis khususnya kelas menengah. Jadi banyak yang hold belanja dan fokus saving,” terangnya. (Detikfinance/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here