Limbah Makanan Perlu Dimanfaatkan

Limbah makanan sampai bernilai Rp550 triliun (2010 -2019) dibuang percuma, sementara di pedesaan dan wilayah 3T banyak penduduk masih kekurangan gizi bahkan kelaparan.

SETIAP penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 300 kilogram sampah makanan atau  20,9 juta ton tiap tahun yang dibuang percuma, padahal bisa diolah untuk kompos atau pupuk organik dan manfaat lainnya.

Melalui program IN2FOOD yang didanai Erasmus dan Uni Eropa, diperkenalkan pengolahan dan pemanfaatan sampah secara berkelanjutan dengan mengolaborasikan ilmu di kalangan perguruan tinggi dengan inovasi dan solusi yang bisa diimplementasikan oleh masyarakat dan dan dunia usaha.

Sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan dunia difasilitasi untuk memahami persoalan sampah makanan terutama yang dihasilkan warung-warung, rumah makan melalui kompetisi mahasiswa terkait penanganan sampah yang digelar Universitas Prasetya Mulya, Tangerang Selatan, Banten.

Yang terlibat dalam kegiatan tersebut, menurut Dekan Sekolah STEM Universitas Prasetya Mulya Wisnu Wijaya, selain Prasetya selaku tuan rumah, diikuti mahasiswa Universitas:  Binus, Ma Chung, Pembangunan Jaya dan Parahiyangan, sedangkan peserta asing dari Ghent University, Tempere University dan Hotel school The Hague.

Solusi untuk pemanfaatan limbah makanan juga dilakukan oleh Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada dengan memperkenalkan  teknologi sederhana pengolahan limbah rumah tangga khususnya organik.

Menurut Dekan Fakultas Biologi UGM, Budi S Daryono, pihanya telah menangani sampah organik melalui ragam pendekatan, seperti vermicomposting, pupu cair, eco enzym, pengomposan, pemakaian biofertilizer dari urin ternak.

Badan pangan nasional (Bapanas) mencatat, total kerugian  dari limbah makanan di dalam negeri pada periode 2000 – 2019 saja mencapai 23 – 48 juta ton per tahun atau setara Rp213 sampai Rp551 triliun selama dekade tersebut.

Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan menyisakan makanan sehingga menjadi penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia setelah AS, apalagi jika gratis seperti di pesta atau helat, orang sering mengambil makanan berlebihan, sehingga akhirnya dibuang.

Ragam pilihan menu juga sering ditampilkan di acara-acara seminar, symposium, raker atau penataran sehingga banyak yang tersisa lalu dibuang begitu saja.

Ironis, masih banyak saudara-saudara kita di wilayah pedesaan dan wilayah terdepan, tertinggal dan terluar (3T) kekurangan gizi bahkan kelaparan, sementara di kota-kota besar makanan dibuang-buang.

 

 

 

 

 

 

Advertisement