Memaknai Silaturahmi Idul Fitri

Silaturahmi Idul Fitri melalui program mudik adalah bagian ritual penting bagi bangsa Indonesia, sehingga pemerintah hendaknya terus memperbaiki dan membangun sarana dan prasarana yang diperlukan agar pemudik aman dan nyaman di perjalanan.

SILATURAHMI menjadi fokus persoalan amat penting bagi umat Islam setiap tahun menjelang Idul Fitri yang diwujudkan melalui program helat mudik yang menguras dana, pemikiran dan tenaga.

Bayangkan saja, menjelang Idul Fitri 1444 H yang diperkirakan jatuh pada 21 dan 22 April, 123,8 juta atau hampir separuh dari 273 juta penduduk Indonesia melakukan ritual mudik dengan seluruh moda angkutan ke berbagai tujuan kampung halaman mereka.

Tidak semua berjalan mulus, bahkan nyawa pun terkadang jadi taruhan, terbukti dalam dua kecelakaan berturut urut yang terjadi di ruas tol Semarang – Solo di wilayah Boyolali 14 dan 15 April lalu, 11 orang tewas dan sejumlah korban lainnya mengalami luka-luka.

Kata silaturahmi berasal dari bahasa Arab yang bermakna merajut jalinan kasih sayang, sedangkan dalam serapan bahasa Indonesia bermakna persaudaraan dan persahabatan.

Secara ontologis, silaturahami adalah ungkapan agama yang menunjukkan jalinan kasih sayang antara sanak saudara yang masih memiliki hubungan darah seperti adik kepada kakak, keponakan pada paman, anakpada orang tua atau cucu pada kakek-nenek.

Lebih jauh lagi, silaturahmi bisa juga bermakna persaudaraan atau persahabatan yang dibangun melintasi batas hubungan darah.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya , hendaknya dia menjalin silaturahmi (HR Buchari).

Makna silaturahmi dalam hadits tersebut juga diperjelas oleh Nabi Muhammad dalam hadits lain, misalnya: “Orang yang menjamin silaturahmi bukanlah orang yang membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan yang sama, tetapi orang yang menjalin silaturahmi yang sempat terputus.

Bahkan lebih tegas lagi, dalam hasits yang lain, Rasul menyebutkan : “Tidak akan masuk surge orang yang memutus silaturahmi”.

Silaturahmi, penting

Dalam jajak penapat yang digelar harian Kompas 12 – 14 April (Kompas, 17/4) yang melibatkan 502 responden di 34 provinsi, hampir seluruhnya (98,5 persen) menilai, silaturahmi penting.

Sebanyak 85,5 persen responden menganggap silaturahmi penting untuk seluruh umat dan hanya 14,3 persen yang menganggap hanya penting untuk muslim.

Sebanyak 53,1 persen responden berusia antara 17 sampai 39 tahun menanggap, baik jumpa fisik mau apun visual sama-sama bentuk silaturahmi,  dan 46,9 persen menganggap silaturahmi harus dengan temu fisik.

Sementara mayoritas (66,7 persen) responden berusia 40 tahun ke atas menganggap berjumpa fisik atau visual tidak ada masalah terkait silaturahmi, sedangkan 31,9 persen harus bertemu fisik.

Tantangan yang dihadapi untuk bersilaturahmi Idul Fitri kali ini, menurut 37,4 responden adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan, 27 persen liburan yang terbatas, 19,4 persen biaya transportasi mahal, 6,6 persen ancaman Covid-19 dan 3,5 persen masalah keluarga, selebihnya karena macet, kesehatan dan lainnya.

Mengingat pentingnya silaturahmi bagi bangsa Indonesia, selain terkait ritual agama, moral, budaya dan juga pemerataan ekonomi di daerah, sewajarnya jika pemerintah terus memperbaiki keamanan, kenyamanan dan kemudahan mudik.

Selain membangun sarana dan sarana transportasi yang dibutuhkan ketiga moda angkutan, pemberian insentif dan kemudahan, misalnya diskon tiket atau tiket gratis bagi pensiunan atau yang tidak mampu sepantasnya terus diupayakan pemerintah.

 

 

Advertisement