
NKRI dengan wilayah seluas 1,9 juta KM2 memerlukan Angkatan Udara yang tangguh untuk menjaga wilayah dari potensi serangan musuh walau untuk itu dibutuhkan anggaran besar.
Salah satu upaya untuk mewujudkannya dilakukan melalui kerjasama antara pemerintah RI dan Korea Selatan untuk mengembangkan pesawat tempur berkualifikasi siluman, Rajawali KAI KF-21 yang ditandatangani pada 2009.
Dalam nota kesepahaman itu, pemerintah RI menanggung seperlima atau 20 persen dari total proyek yang menurut pakar pertahanan Korsel Lee Juhyeong bisa sampai 10 triliun Won (sekitar 92 miliar dollar AS) atau setara Rp138 triliun.
Elang atau Boramae dalam bahasa Korea terdiri dari Blok-1 berupa pesawat tempur dengan air superiority (keunggulan udara) dan Blok-2 dengan kemampuan “multi role” (multi peran) yakni interceptor (penyergap), fighter (duel udara) dan bomber (pengebom).
Purwarupa pesawat pertama kali ditampilkan pada April, 2021, sementara uji terbang resmi pesawat generasi 4.5 sampai 5.0 tersebut sudah dilakukan pada 28 September lalu disaksikan oleh Wamenhan RI M. Herindra.
Sebelumnya pada uji terbang pertama (19/7) KF-21 juga sukses terbang dalam kecepatan 200 Km ( 400 knot) dengan mengusung empat dummi rudal Meteor untuk diuji seluruh instrumennya.
Jika bisa diproduksi sesuai jadwal pada 2026, Elang atau Boramae akan dipesan bertahap sampai sampai 120 unit oleh AU Korsel hingga 2032, sementara RI akan memesannya sampai 100 unit, selebihnya akan diproduksi untuk ekspor sesuai pesanan.
Keterlambatan
Program KF-21 semula mengalami keterlambatan akibat mundurnya sejumlah mitra seperti Swedia, Turki dan AS, sementara Presiden Korsel Park Geun-hye memutuskan penundaan proyek selama 18 bulan pada 2013 akibat kesulitan keuangan.
Sementara pemerintah RI juga mengumumkan penundaan program KF-21 akibat penolakan AS memberikan sejumlah teknologi kunci yang juga digunakan oleh pesawat tempur F-35 Super Lighting II buatannya, walau mempertimbangkan skema kerjasama lainnya.
RI kembali melakukan keterlambatan pembayaran yang telah disepakati sebelumnya pada 2017 akibat anggaran proyek tersebut tidak dialokasikan dalam APBN walau setahun kemudian dilakukan negosiasi ulang untuk melanjutkan proyek ini.
Spesifikasi KF-21: kru satu atau dua orang, panjang 16,9M, rentag sayap 11,2M, tinggi 4,7 M, berat kosong 11.800 Kg dan dengan isi 17.200 Kg, sementara pesawat digerakkan oleh dua mesin General Electric F414-GE-400K.
Pesawat yang mampu melaju dalam kecepatan 1,8 Mach, bisa mengusung persenjataan di sepuluh titik keras atau pod (enam di bawah sayap dan empat di bawah badan).
Rudal yang akan dipasang a.l. dari udara ke udara MBDA Meteor, AIM-120 AMRAAM, Diehl IRIS-T dan AIM-9X Sidewinder, sedangkan rudal udara ke darat a.l. Taurus KEPD 350, AGM-65 dan rudal anti kapal AGM-84 Harpoon. Bom-bom yang diusung a.l. MK 81, MK82, MK83 dan MK-84, GBU-39 dan CBU-105.
Sedangkan Sistem avionic yang dipasang a.l. electro optical targeting pod, datalink LIG Next1, radio frequency jammer dan berbagai sistem terkomputerisasi.
Fungsi kekuatan udara yang menonjol dalam perang modern a.l dalam Perang Enam Hari, Juni 1967 antara Israel melawan negara-negara Arab dimana keunggulan pilot-pilot dan pesawat-pesawat Israel mampu melumpuhkan dengan cepat seluruh kekuatan Mesir, Jordania dan Suriah.
Namun dalam konlfik teranyar, misalnya perang Armenia vs Azerbaijanterkait sengketa wilayah Nagorno Karabakh (Sept. – Nov. 2020) dan Rusia vs Ukraina (masih berlangsung), sebagian peran pesawat tempur digantikan oleh drone-drone serang.
Kemajuan sistem pertahanan udara, misalnya rudal-rudal panggul Stinger, sistem pertahanan rudal Patriot, Aegis dan sistem Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) atau sistem pertahanan Ufuk Tinggi (semua eks-AS) juga membatasi gerak pesawat tempur.
Namun yang jelas, sesuai adagium “Si Vis Pacem para Bellum” (Yang Cinta Damai Harus Siap Perang), membangun Angkatan Udara yang sarat teknologi canggih, walau amat mahal, jelas perlu.




