JAKARTA – Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengusulkan agar PBB membentuk pasukan perdamaian khusus perempuan.
Hal tersebut diungkapkan juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir, Jumat (5/10/2018) yang menyatakan pasukan perdamaian perempuan dibutuhkan karena dalam setiap konflik, perempuan dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan dan banyak menjadi korban.
Menurutnya, di sela sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB) di kota New York, Amerika Serikat, bulan lalu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menggagas agar lembaga dunia itu membentuk pasukan perdamaian khusus perempuan.
Usul ini, lanjut Retno, merupakan bagian dari komitmen ASEAN untuk lebih berperan dalam perdamaian dan keamanan dunia. Ditambahkannya, ASEAN menjadi satu-satunya organisasi di kawasan yang telah mengadopsi “Action for Peacekeeping.”
Arrmanatha Nasir menjelaskan pasukan perdamaian perempuan dibutuhkan karena dalam tiap konflik perempuan dan anak-anak merupakan pihak paling rentan dan banyak menjadi korban. Pasukan perdamaian perempuan sangat diperlukan dalam proses rehabilitasi dan pemulihan.
“Di saat mereka perlu rehabilitasi, perluperlindungan, mereka biasanya lebih gampang untuk terbuka dan percaya kepada sesama perempuan, kan. Oleh karena itulah, salah satu upayanya adalah untuk meningkatkan jumlah perempuan operasi pemeliharaan perdamaian,” kata Arrmanatha, dikutip VOA.
Meski demikian, kata Arrmanatha, ada sejumlah kendala untuk membentuk pasukan perdamaian yang mayoritas terdiri dari tentara perempuan. Salah satunya karena perempuan tidak mudah pergi jauh dalam waktu lama meninggalkan anak-anaknya atau keluarganya.





