Menyiasati Harga Cabai yang Melambung Tinggi

Harga cabai naik dalam dua pekan sejak awal Nov. akibat kemarau panjang dampak El Nino yang menyebabkan produksi anjlok.

HARGA cabai, buah jenis tanaman hortikultura berasa pedas yang digemari penduduk Indonesia melambung tinggi akhir-akhir ini antara Rp90.000 sampai Rp120.000 per kg, padahal dalam situasi normal hanya Rp30.000.

Penyebabnya, kata Dirjen Hortikultura, Kementan, Prihasto Setyanto, antara lain cuaca ekstrim fenomena El Nino yang membuat musim kemarau panjang  walau hal itu tidak berlangsung lama, saat ini hujan di sejumlah wilayah juga sudah mulai turun.

Selain faktor cuaca yang tak menentu, memburuknya kondisi tanah akibat penggunaan pupuk terlalu lama, juga ikut menurunkan produksi dan pada gilirannya mengatrol harga sesuai hukum permintaan dan penawaran. Ketidakmerataan distribusi juga ikut berdampak pada fluktuasi harga cabai.

Dari data BPS, produksi cabai besar mau pun rawit pada tahun 2022 juga surplus, walau terjadi fluktuasi angka per bulannya.

Produksi cabai besar 1,48 juta ton atau naik 8,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan konsumsi yakni 636,6 ribu ton atau naik 6,8 persen atau 40,42 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya (596,18 ribu ton).

Sementara produksi cabai rawit pada 2022 tercatat 1,55 juta ton atau naik 11,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan konsumsi 569,65 ribu ton atau naik 41,51 ribu ton (dibandingkan 528,93 ribu ton pada 2021.

Penanganan pasca panen, misalnya pembuatan cabe giling kemasan juga perlu diperhatikan untuk mencegah kurangnya pasokan selepas musim panen atau saat terjadi terjadi cuaca ekstrim.

Hampir seluruh menu olahan atau kuliner Indonesia, baik yang berkuah, digoreng mau pun dipanggang dan lalapan menggunakan cabai untuk rasa pedas, bahkan banyak warga yang mencoplos cabai untuk mendampigi kudapan seperti tahu goreng, bakwan dan penganan gurih lainnya.

Tanam Sendiri

Di kota-kota besar seperti ibu kota, warga bahkan mengakali kebutuhan cabai dengan menanamnya di halaman rumah atau lahan sempit atau di lahan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di kawasan Pondok Kopi, Kec. Duren Sawit,  Jakarta Timur.

Seperti ditulis Kompas (23/11), Haris memanfaatkan lahan RPTRA untuk menanam cabai sejak Juli 2023 yang sampai saat ini sudah 14 kali panen antara empat sampai enam Kg sekali panen.

Saat harga cabai membumbung tinggi di pasar sampai Rp120.000 per kg, ia hanya menjual dengan harga separuhnya untuk warga setempat. Namun ia mengingatkan, tanaman cabai juga memerlukan perawatan, pupuk dan pestisida agar hasilnya baik.

Selain kiat untuk menghadapi lonjakan harga, bercocok tanam cabai atau tanaman pangan lain di halaman atau lahan sempit selain aktivitas sehat juga ikut menjaga ketahanan pangan, paling tidak di level keluarga.

Last but not least, mengingat sebagian besar menu masakan nasional harus berbumbu cabai, kelangkaan pasokannya, juga lonjakan harga terjangkau hendaknya selalu diantisipasi.

 

 

 

Advertisement