MESIR – Sementara waktu Mesir telah membuka kembali perbatasan Rafah, jalan satu arah, untuk memungkinkan ratusan orang Palestina yang terdampar untuk kembali ke Jalur Gaza.
Perbatasan Rafah, satu-satunya penyeberangan dari Gaza yang melewati Israel, dibuka selama tiga hari mulai hari Sabtu (6/5/2017)Â yang memungkinkan orang-orang masuk tapi tidak keluar.
“Pihak berwenang Mesir membuka kembali penyeberangan Rafah selama tiga hari saja, dari Sabtu sampai Senin, dan hanya dalam satu arah untuk mengizinkan mereka yang terdampar di pihak Mesir untuk kembali ke rumah,” kata pejabat Palestina dalam sebuah pernyataan, yang menggambarkan langkah tersebut sebagai tindakan kemanusiaan.
Otoritas perbatasan Gaza juga mengatakan bahwa lebih dari 20.000 warga Palestina yang dianggap berada dalam kasus kemanusiaan, terjebak di Jalur Gaza dan sangat membutuhkan bepergian ke luar negeri untuk menerima perawatan.
Penyeberangan Rafah adalah satu-satunya gerbang yang tersisa bagi orang-orang Palestina di Gaza ke dunia luar, setelah Israel memberlakukan blokade di Jalur Gaza, yang diberlakukan juga oleh Mesir – satu dekade yang lalu.
Tapi sebagian besar ditutup dalam beberapa tahun terakhir karena ketegangan antara penguasa Mesir dan Gaza, Hamas.
Mesir telah membatasi masuknya Rafah sejak Juni 2013, ketika Abdel Fattah el-Sisi menjadi presiden menyusul penggusuran pendahulunya, Mohamed Morsi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan bahwa Rafah dibuka secara parsial selama 44 hari tahun lalu, dibandingkan dengan 32 pada tahun 2015. Hanya 1.713 pasien yang diizinkan melakukan perjalanan ke Mesir untuk perawatan kesehatan pada tahun 2016.
Sebelum penutupan, lebih dari 4.000 penduduk Gaza menyeberang ke Mesir setiap bulan karena alasan kesehatan, kata PBB, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Minggu (7/5/2017).





