Keluarga korban pesawat penumpang pesawat Malaysia Airlines mestinya masih penasaran, karena hasil penyelidikan Badan Keselamatan Penerbangan Belanda (OvV) hanya menyebutkan, pesawat Boeing B777-200 naas itu jatuh di wilayah Ukraina Timur, 17 Juli 2014 itu akibat tembakan rudal.
Pesawat plat merah Malaysia dengan nomor penerbangan MH17 tersebut jauh di dekat kota Sharkatz, kawasan Ukraina timur di tengah wilayah konflik bersenjata yang berkecamuk antara milisi separatis Ukraina pro Rusia dan militer Ukraina.
Dari hasil rekonstruksi sebagian tubuh pesawat yang dilakukan OvV bersama dengan sejumlah institusi manca negara lainnya, pesawat yang terbang dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur itu jatuh akibat terkena rudal SA-11 BUK buatan Rusia yang meledak satu meter dari sisi kiri atas dari hidung pesawat yang sedang mengudara pada kecepatan 534 Km per jam tersebut. Bahan cat yang yang ditemukan di serpihan kokpit pesawat sama dengan cat bagian rudal yang ditemukan di lokasi reruntuhan pesawat.
Bagian Ruang awak (kokpit), menurut hasil rekonstruksi yang dipublikasikan 13 Okt. lalu, terlepas dari kabin kelas bisnis di badan pesawat, sedangkan ketiga awaknyag tewas seketika akibat terkena serpihan rudal. Dari hasil rekonstruksi, terdapat 800 lubang-lubang di tubuh pesawat yang terkena serpihan rudal (shrapnel) berenergi tinggi. Pesawat diperkirakan langsung meluncur dan kemungkinan terpecah dari ketinggian sekitar 10 Km sebelum menghunjam bumi.
Akibat ledakan rudal, dipastikan seluruh awak dan penumpangnya akan mengalami suara ledakan yang memekakkan telinga, mengalami dekompresi karena kekurangan oksigen dan menggigil kedinginan dan terkena hembusan angin sangat kencang pada ketinggian tersebut
Saat jatuh MH17 mengangkut 15 awak pesawat dan 283 penumpang (193 warga Belanda dan 105 dari berbagai kewarganegaraan ) termasuk 12 orang WNI.
Pertanyaannya adalah siapa yang bertanggungjawab sebagai pelaku penembakan rudal, mengingat kedua belah pihak yang bertikai (milisi separatis Ukraina pro Rusia dan pasukan Ukraina berada di radius jarak tembak rudal dengan titik meledaknya pesawat.
Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan menuding, penyelidikan yang dipimpin Belanda itu bukan untuk mengungkap kebenaran, tetapi melegitimasi kecurigaan pihak Barat terhadap Rusia. Alasannya, memang sistem rudal BUK dibuat oleh Rusia, tetapi satuan militer Ukraina juga memilikinya.
Menurut catatan, rudal BUK dikembangkan Rusia sebagai sistem pertahanan udara jarak menengah yang dapat dioperasikan , baik secara statis , bergerak (diangkut tank) atau diluncurkan dari kapal perang. Rudal yang dipandu radar itu akan meledak setelah mendekati sasaran.
Dengan tiga kali kecepatan suara (MAC-3), rudal BUK mampu mengejar sasaran di udara (termasuk rudal musuh) pada ketinggian 20 Km dalam jarak lebih 200 Km. Selain Ukraina, negara-negara lain yang mengoperasikannya antara lain Mesir, Finlandia, Serbia dan Venezuela.
Sejauh ini hanya bisa dipastikan, rudal diluncurkan dari suatu titik di kawasan seluas 320Km di Ukraina Timur yang saat itu dikuasai milisi Ukraina pro Rusia.Tanpa kesediaan Rusia dan Ukraina, agaknya sulit untuk membuktikan siapa pelakunya mengingat kedua belah pihak yang bertikai sama-sama berada di dalam radius jarak jangkau rudal dari perkiraan titik meledaknya pesawat MH17.
Memang ada kecurigaan dengan adanya bukti bahwa milisi Ukraina pro Rusia berusaha merusak situs kecelakaan pesawat , memindahkan jenasah dari runtuhan pesawat dan memveto Resolusi DK PBB yang berencana menggelar pengadilan internasional untuk mengadili pihak yang bertanggungjawab atas penembakan pesawat itu.
Indonesia sendiri yang warganegaranya menjadi korban di pesawat naas tersebut berkepentingan atas pengungkapan kasus ini dan mendukung Resolusi DK PBB Nomor 2166 tahun 2014 yang memuat tuntutan hukum bagi pihak-pihak yang bertanggungjawab.
Seluruh keluarga korban agaknya harus bersabar lagi menunggu siapa dalang dan pelaku penyebab kematian awak dan penumpang MH17. (Nanang Sunarto)





