YANGON—Kemalangan muslim Rohingya di Myanmar masih belum berakhir. Mereka masih tidak bisa melaksanakan ibadah dengan leluasa. Terbaru, Arab News memberitakan mereka harus basah-basahan saat mengantre bukaan di sebuah masjid di Yangoon karena minim fasilitas ibadah minim.
Sebelumnya, banyak warga yang menempati madrasah untuk melaksanakan ibadah. Namun, beberapa bulan lalu, madrasah sekaligus tempat shalat warga Muslim disegel pemerintah karena tuntutan kelompok Budha Ultranasionalis.
“Kami telah menghadapi banyak diskriminasi selama beberapa tahun terakhir,” kata Hussein, yang biasa berdoa di bangunan sekolah itu.
Padahal, sudah enam dekade, tempat itu menjadi rumah ibadah bagi warga Muslim Myanmar. “Saat kecil dulu tidak ada diskriminasi, kami bersahabat dengan komunitas Buddha, kami bahkan makan bersama,” kata Hussein.
Sekretaris masjid di Thaketa, Aung Htoo Myint mengatakan, komunitas Muslim semakin sulit menjalankan agamanya, bahkan untuk shalat berjamaah. Ada ratusan orang yang biasanya berkumpul dan mereka terpaksa shalat di pinggir jalan. Itu pun masih dilarang oleh otoritas lokal. Mereka telah melayangkan protes namun hasilnya nihil.
Seorang guru madrasah, Bo Gyi mengatakan tidak tahu kapan sekolah bisa dibuka lagi. Padahal ada 300 anak yang mengenyam pendidikan di sana. “Kami telah menulis surat pada presiden dan kepala menteri Yangon, tapi tidak ada respon,” katanya.
Bo Gyi masih belum tahu kapan madrasah itu akan kembali dibuka. Ada 300 anak murid yang menunggu kepastian untuk bisa kembali belajar dan beribadah.





