Indonesia terkenal dengan budayanya yang beragam, bahkan Bhineka Tunggal Ika menjadi simbol dari begitu melimpahnya adat dan budaya di masyarakat Nusantara. Adat dan budaya ini bukan hanya pada suku, rumah adat, kesenian, bahasa, namun juga terkait legenda, dongeng, bahkan mitos.
Mitos menjadi sesuatu yang khas dari bangsa ini, bahkan saking sudah turun temurunnya mitos tersebut sehingga seolah-olah mitos tersebut adalah benar adanya. Mitos juga bukan hanya sering kita dengar pada masalah sosial namun juga banyak mitos yang beredar di masyarakat yang menyangkut masalah kesehatan.
Jika kita sering mendengar mitos “jangan duduk dipintu, nantinya susah jodohnya” atau mitos lainnya, dalam dunia kesehatan kita juga bisa menemukan beberapa mitos seperti yang dikutip dari tulisan Dr. Widodo Judarwanto berikut yakni :
1. Pemberian Kopi Mencegah Kejang Pada Anak.
Pemberian kopi kepada anak sampai saat ini masih tidak terbukti untuk dapat mencegah terjadinya kejang. Sebab, kejang pada anak di diakibatkan oleh demam tinggi atau faktor penyebab lainnya. Untuk mencegah demam, maka penyebab demam itulah yang harus dicari kemudian diatasi.
Justru beberapa penelitian menunjukkan pemberian kafein pada binatang percobaan dapat meningkatkan resiko kejang epilepsi. Pemberian kopi beresiko menyebabkan detak jantung berdebar-debar, gelisah, dan anak tidak bisa tidur. Padahal pada anak yang badannya panas, detak jantungnya sudah meningkat dan gelisah. Pada anak dengan saluran cerna yang sensitif maka kopi akan beresiko berdampak terhadap keluhan mual, muntah dan nyeri perut.
2. Mi Instan berbahaya bagi kesehatan.
Sampai saat ini banyak oipini berkembang baik dari oprang awam bahkan sebagian dokter mengatakan bahwa mi instan harus dihinbdari karena berbahaya bagi kesehatan. Berbagai berita dan mitos tidak jelas mengatakan bahwa mi instan mengandung lilin, menyebabkan operasi pemotongan usus dan berbagai hal menyeramkan lainnya.
Padahal produk mi instant diawasi ketat melalui standarisasi internasional yang ditetapkan Codex Alimentarius Commission (CAC) dam standarisasi nasional oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Forum CAC (Codex Alimentarius Commission) merupakan organisasi perumus standar internasional untuk bidang pangan.
Berbagai produk dan industri makanan yang ada di Indonesia harus dibuat berdasarkan CODEX Alimentarius Commission, badan standar makanan internasional. Memang Mi Instan mengandung bahan tambahan seperti seperti nipagin (methyl p-hydroxybenzoate) yang berfungsi sebagai pengawet dengan batas maksimum penggunaan.
Juga terdapat asam benzoat dan propeonat. Methylparaben nama tehnisnya Methyl p-hydroxybenzoate (disebut juga Methyl parahydroxybenzoate) dalam makanan instant dan makanan lainnya.
Menurut Codex Alimentarius Commission (CAC), Permenkes No.722/1988 dan BPOM bahan pengawet tersebut diizinkan dan tidak berbahaya.Untuk makanan seperti mie instan, asalkan tidak melebihkan kadar maksimum yang ditentukan Badan POM, yakni 250 mg per kg.
Di setiap Negara batas maksimum pemakaian Nipagin berbeda seperti Amerika Serikat, Kanada dan Singapura, kadar maksimum Nipagin itu 1.000 mg per kg. di Hongkong 550 mg per kg.
Penentuan batas keamanan yang sangat bervariatif tersebut karena sampai saat ini belum ada data dasar dan data ilmiah yang mendasari penentuannya.
Anehnya, orangtua tampaknya tetap merasa aman dengan mi industri lain yang juga banyak dikonsumsi untuk rumah makan, restoran dan penjaja mi goreng keliling.
Padahal produk lainnya tersebut belum tentu mengikuti standarisasi yang ketat. Banyak mi buatan home industri atau produksi pabrik tersebut yang mengandung bahwan perwarna berbahaya dan pengawet berbahaya yang tidak terdeteksi tetapi masyarakat tidak pernah takut.
3. Sakit Maag Karena terlambat makan.
Kekambuhan sakit maag atau dipepsia karena terlambat makan masih belum dapat dijelaskan secara ilmiah dan masih belum ada penelitian yang membuktikannya.
Tetapi fakta yang ada bahwa umat muslim melakukan puasa hingga sampai lebih 12 jam juga terbukti tidak mengakibatkan gangguan maag pada sebagian besar pelakunya.
Penyakit Maag atau dispesia adalah gejala penyakit yang menyerang lambung karena terjadi perlukaan atau peradangan pada lambung yang menyebabkan sakit, nyeri, mulas, dan perih pada saluran pencernaan terutama bagian atas.
Gejala lain yang bisa dirasakan selain rasa tidak nyaman, juga mual, muntah, nyeri ulu hati, bloating (lambung merasa penuh), kembung, bersendawa, cepat kenyang, perut keroncongan (borborgygmi) sering buang angin.
Penyakit maag juga sering disertai gangguan mulut seperti mulut berbau, sariawan, gusi dan gigi sering ngilu, lidah kotor, gusi berdarah, bibir kering dan berdarah. Gejala itu bisa akut atau jangka pendek, berulang, dan bisa juga menjadi kronis. Terjadi kondisi kronis jika gejala itu berlangsung lebih dari satu bulan terus-menerus.
4. Minum Es, Debu, makan gorengan sebagai penyebab sakit Flu.
Saat mengalami keluhan radang tenggorok, pilek, bersin atau demam seringkali masyarakat menjadikan kambing hitam minum es, debu atau udara dingin. ”
Hal lain yang sering dijadikan alasan penyebab sakit flu, demam, batuk atau pilek karena kecapekan, kena hujan, kena angin, kena debu, naik sepeda motor, kena kipas angin atau karena di rumah sedang membangun.
Ternyata alasan yang dikemukan orang tersebut adalah tidak benar sebagai penyebab atau bukan penyebab langsung sakit infeksi batuk, pilek dan demam yang di alami anaknya. Banyak yang meyakini bahwa sakitnya yang diderita selama ini karena hal tersebut.
Padahal bila dicermati penularan penyakit yang utama adalah terjadi kontak sumber penularan dan ada kontak yang sakit di sekitarnya 1-2 hari sebelumnya. Faktor daya tahan tubuh juga menjadi faktor penting, karena meskipun ada kontak manusia bisa terhindar dari flu atau paling tidak gejalanya ringan yang pernah kita sadari.
Bila tidak ada kontak dan sumber penularan flu tidak akan terjadi. karena virus tersebut tidak akan beterbangan di udara bebas yang luas, seperti di jalan, di udara luas dan tertipup angin dengan jarak yang jauh. Kalaupun es, udara dingin, atau gorengan hanya akan memperberat saat sudah terkena flu atau radang tenggorokan.
Tetapi saat sehat bila terjkena paparan tersebut tidak berpengaruh.Nah, beberapa mitos kesehatan di atas hanya sebagian kecil dari sekian banyak mitos kesehatan yang beredar di masyarakat.
Mitos disini artinya menurut ahli, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan seperti di atas belum sepenuhnya terbukti secara ilmiah.
Namun, saking seringnya beredar di masyarakat dan karena turun temurunnya pendapat tersebut sehingga seolah-olah pendapat tersebut memberikan keyakinan bahwa apa yang disampaikan tersebut benar adanya. Terlepas kemudian percaya atau tidak pada mitos tersebut? semua terserah anda.




