Mobilitas Saat Nataru Mencemaskan

Walau penyebaran Covid-19 terkendali, mobilitas warga pada even Nataru nanti mencemaskan, apalagi dengan munculnya varian Omicron yang lebih ganas dan mematikan.

WALAU pertambahan paparan harian Covid-19 dan angka kematian masih terkendali dan pasien sembuh meningkat, mobilitas warga pada Natal dan pergantian tahun dicemaskan bakal memicu lonjakan baru.

Pasalnya, kata Epidemiolog Universitas Indonesia Yunis Tri Miko Wahono (3/12), ia tidak yakin masyarakat akan mematuhi sepenuhnya PPKM level 3 pada libur Natal dan Tahun baru (24 Des. ‘21 – 2 Jan ’22)  .

“Kita jangan sampai seperti keledai, terperosok dalam lubang yang sama, “ kata Miko mengingatkan terjadinya lonjakan Covid-19 pada liburan Natal dan Tahun Baru tahun lalu.

Apalagi, menurut dia, tidak mudah untuk mengetatkan kembali peraturan yang sudah dilonggarkan, juga penamaan levelnya dengan angka membingungkan masyarakat.

Yang ia maksudkan, saat ini sebagian wilayah sudah dilonggarkan dan ditetapkan pada PPKM Level 2, sehingga dengan menaikannya ke  level 2, Miko melihatnya bakal sulit dipatuhi.

Berbeda misalnya dengan di Singapura, pelanggar prokes Covid-19 dikenakan denda yang cukup tinggi, sehingga sekali kena denda, orang bakal kapok.

Miko juga tidak yakin, jika ada orang yang mengatakan, peraturan tidak perlu diawasi secara ketat dan sebaiknya menyadarkan masyarakat tentang perlunya mematuhi prokes Covid-19 demi kemaslahatan Bersama.

“Omong kosong, soal kesadaran. Dari hasil survei saja terungkap, hanya 30 persen responden yang mau mematuhi prokes sepenuhnya, sekitar 40 persen menolak. Saya pesimis, kalau cuma menggantungkan peraturan tanpa pengawasan dan sanksi, “ ujarnya.

Menurut Miko, peraturan saja sering diakali, misalnya larangan berpergian saat PPKM 3 saja banyak dilanggar dengan melakukan akal-akalan, berangkat sebelum tanggal tersebut dan kembali sesudahnya.

Sebaiknya, lanjutnya, penamaannya diganti menjadi PPKM Khusus atau PPKM Darurat, juga implementasinya harus terkoordinasi mulai dari pusat sampai ke pemerintah daerah.

Penularan antarzona

Sementara Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Agus Taufik Mulyono mengingatkan, yang paling dicemaskan adalah penularan dari zona ke zona oleh para pemudik atau pelaku perjalanan di daerah kunjungan.

Pengetatan PPKM selama liburan Nataru, menurut dia sudah cukup baik, namun harus dibarengi peraturan dan pengawasan di tiap daerah.

Selain menerbitkan perda-perda sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah atau obyek wisata, pengawasannya juga harus benar-benar dilakukan.

Misalnya DI Yogyakarta dimana jumlah pengujung pada saat-saat liburan lebih banyak dari jumlah penduduk setempat, sehingga selain jelas peraturannya, pengawasanya pun harus secara ketat dilakukan.

Kecemasan berbagai pihak terkait potensi lonjakan Covid-19 juga sehubungan dengan ditemukannya varian Omicron asal Afrika Selatan yang mampu bermutasi lebih 30 kali dan keganasannya lima kali dari varian Delta.

Sebaran varian Omicron sejauh ini sudah terdeteksi di 23 negara, sebagian besar di daratan Eropa seperti Jerman, Belanda, Belgia, Irlandia dan negara-negara di EropaTengah dan Eropa Timur.

Di Indonesia sendiri, walau masih terkendali, kasus aktif nasional Covid-19 naik empat hari berturut-turut, bahkan di Jawa-Bali enam hari berturut-turut dan jumlah keterisian RS (BOR) naik dari 1,76 persen (7/11) menjadi 2,2 persen (28/11).

Waspada, tetap waspada, patuhi prokes 3M, lakukan terus     3T, perluas capaian dan cakupan vaksinasi serta cegah masuknya varian virus baru.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement