Ini Dia Tanggapan Warga Sekitar Rudenim Setelah Wilayahnya Dijejali Tenda Pengungsi WNA

JAKARTA (KBK) – Terus berdatangannya pengungsi luar negri ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Jakarta membuat landscape jalan Peta Selatan, Kalideres berubah. Di sisi kanan dan kiri trotoar yang tadinya sepi kini ramai dipenuhi puluhan tenda yang didirikan oleh pengungsi.

Sabrinal, salah seorang driver ojek online yang biasa beredar di kawasan tersebut menuturkan, bila kapasitas di dalam Rudenim sudah penuh seyogyanya pihak Rudenim mempersilahkan para pengungsi tinggal di lapangan dalam kompleks Rudenim.

“Mereka kan manusia, jangan ditelantarkan seperti ini lah. Mereka kan muslim juga, sesama muslim kan harus saling membantu,” ujar Sabrinal yang siang itu mencoba berdiskusi dengan salah seorang pengungsi asal Sudan (22/2).

Lain lagi dengan Mustofa, Wakil Ketua RT 07, RW 11 sekaligus tokoh masyarakat Kalideres yang memiliki rumah makan tepat berada di depan Rudenim. Menurutnya sejak para pengungsi asal Afganistan, Etiopia dan Sudan itu tiba 20 hari lalu, lambat laun omsetnya menurun.

“Orang makan kan maunya tempat bersih, tapi sekarang mereka buka tenda depan warung makan saya. jadi sepi,” ujar Mustofa kepada KBK (22/2).

Di luar itu aktivitas para pengungsi juga kerap membahayakan warga sekitar akibat ulah mereka yang sering berebut makanan bila ada donatur yang datang membagikan. Di sisi lain para pengungsi juga tak segan menggelar tenda di depan toko-toko dan ruko yang masih beroperasi. Bila hujan tiba tak sedikit dari mereka yang meneduh di dalamnya.

“Sudah saya tegur berulang kali tapi mereka diam saja. Mungkin karena nggak ngerti bahasa kami atau mereka bandel. Saya kurang tahu,” jelasnya.

Mustofa khawatir salah satu dari pengungsi ada yang memiliki itikad buruk seperti teroris atau membawa penyakit menular. Hal senada juga dilontarkan oleh penjual boneka yang tak mau disebutkan namanya. Sejak tenda mereka berdiri, jumlah pengunjung yang mampir ke tokonya mulai berkurang.

“Hampir semua penjual di sini agak terganggu dengan aktifitas mereka. Hanya warga bukan penghuni sini yang respec terhadap mereka. Kalau saya lihat mereka tidak kesusahan, handphone androidnya saja satu anak satu handphone,” katanya.

“Satpol PP nggak menggusur mereka. Kalau pol PP lewat ya lewat saja. Beda kalau warga Indonesia yang pakai trotoar, baru sebentar saja sudah di gusur,” sahut Mustofa.

Advertisement