
PANDEMI Covid-19 belum teratasi, terus menyebar maut dan memapar jutaan warga dunia, namun di sisi lain, menginspirasi dan memotivasi orang untuk menemukan vaksin atau mengklaim mampu membuat obatnya.
Salah satunya, Hadi Pranoto, semula mengaku profesor, pakar mikrobiologi dan dokter yang mengklaim telah menemukan cairan obat manjur dari ramuan tanaman dan buah-buahan guna menyembuhkan Covid-19 yang ditularkan oleh virus SARS-CoV-2 itu.
Menurut Hadi, obat temuannya bekerja dengan membentuk antibodi di tubuh manusia sehingga imun dari virus penyebab Covid-19, dan lebih dari itu, korban terpapar juga bisa sembuh total antara dua sampai tiga hari setelah menenggaknya.
Hasil temuan Hadi pun menuai polemik dan menjadi viral di medsos sehingga ia sering diundang untuk tampil di sejumlah stasiun TV sebagai nara sumber untuk menjelaskan hasil temuannya.
Hadi setelah dicecar oleh berbagai nara sumber lain, mengaku memang bukan dokter, tidak terdaftar sebagai anggota IDI, dan melakukan riset sejak 20 tahun lalu di laboratorium yang dikelolanya sendiri (entah dimana?).
Obat temuannya, tutur Hadi, sudah terbukti ampuh menyembuhkan ribuan pasien terinfeksi Covid-19 hanya selang dua sampai tiga hari setelah diminum , termasuk para pasien Covid-19 di RS darurat Wisma Atlit, Jakarta.
Menyesatkan
Klaim Hadi dinilai menyesatkan a.l. oleh Karo Pembinaan dan Perlindungan Anggota IDI Prof. H.N. Nazar karena tidak ada bukti-bukti, proses pembuatannya sudah melalui rangkaian penelitian sesuai prosedur dan diverifikasi oleh institusi resmi yang ditunjuk.
Menurut catatan, perlu waktu lama dan dana besar untuk menemukan vaksin atau obat melalui rangkaian uji pra-klinis dan uji klinis bertahap in vitro (melalui jaringan atau sel) dan in vivo (di tubuh hewan dan manusia) sebelum diproduksi secara massal.
Pembuatan vaksin atau obat baru diawali dengan konsepnya, zat aktif yang digunakan, proses pembuatan, metode analisis dan uji-kliinik dan non-klinik untuk memastikan keamanannya bagi manusia, khasiat, efek samping, dosis serta durasi penggunaannya yang pas.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, dari 170 bakal vaksin yang didaftarkan, baru beberapa yang sudah pada uji klinis tahap ke-3 (diujicobakan pada ribuan relawan), salah satunya buatan Sinovac, China yang diujicoba di PT Bio Farma, Bandung, Brazil dan Bangladesh.
Staf Ahli Menristek Bidang Infrastruktur yang juga Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Prof. Ali Ghufron Mukti mengimbau publik agar lebih mewaspadai pihak-pihak yang mengklaim telah menemukan obat Covid-19.
“Kami mengapresiasi setiap upaya riset atau inovasi percepatan penanganan Covid-19 sesuai prosedur yang ditetapkan, “ ujarnya dan menambahkan, setiap uji klinis (obat) harus sepengetahuan BPOM dan ethical clearance dari Komisi Etik Kemenristek.
Klaim penyembuhan Covid-19 hanya dengan melalui sentuhan, seperti dilakukan oleh pendeta Frankline N’Difor dari Kamerun dan orang “sakti” dari India, Pria Tantra berujung kematian keduanya yang terpapar virus tersebut.
Pernah juga menjadi viral di benua Afrika tentang temuan obat herbal asal Madagaskar yang laris dibeli oleh negara-negara di sekitar kawasan tersebut, namun juga tidak jelas khasiatnya.
Di Indonesia, penggunaan minyak kayu putih sebagai bahan dasar kalung, inhaler, balsem dan produk lainnya yang diklaim oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mampu menyembuhkan Covd-19 juga mengundang reaksi para pakar dan publik.
Dituntut kewaspadaan dan kepatuhan warga terhadap protokol kesehatan untuk mengakhiri pandemi Covid-19, namun nalar dan akal sehat juga diperlukan untuk menghindari obat-obatan yang malah bisa membahayakan keselamatan.




