Obat Gagal Ginjal Akut Sudah Ada

Pemerintah sudah mendatangkan obat gagal ginjal akut progresif atipikal yang sejauh ini sudah memapar 241 anak di 22 propinsi dan menewaskan 133 anak

PARA orang tua yang anaknya mengalami gagal ginjal akut progresif atipikal (atypical progressive acute kidney injury -AKI)  dapat bernafas lega karena pemerintah sudah mengimpor obat penawarnya dari Singapura.

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan (21/10) pemerintah sudah mendatangkan obat Fomepizole secara terbatas dan setelah disuntikkan pada pasien anak di RS Cipto Mangunkusumo hasilnya menggembirakan.

“Sebagian pasien anak kondisinya membaik dan sebagian lagi stabil, “ kata menkes seraya menambahkan, pemerintah juga sudah memesan 200 vial Fomepizole lagi dari Singapura.

Fomepizole yang diproduksi industri farmasi American Regent, Inc. adalah obat antidotum (penawar racun) yang digunakan untuk kasus-kasus keracunan senyawa zat anti beku atau pelarut obat sirop  (a.l. etilen glikol – EG, dietilen glikol-DEG dan etilen glikol butil eter (EGBE).

Fomepizole digunakan untuk penawar keracunan akibat cemaran ketiga senyawa tersebut yang digunakan sebagai zat pelarut obat sirop khususnya obat batuk dan demam untuk anak-anak.

Kasus-kasus kematian anak yang mengalami gagal ginjal akut diduga kuat akibat mengonsumsi sirop obat batuk atau demam menggunakan bahan propilen glikol yang tercemar oleh ketiga senyawa berbahaya itu (EG, DEG atau EGBE).

Sudah Didistribusikan Terbatas

Sementara Wamenkes Dante S Harbuwono (22/10) mengemukakan, Fomepizole sudah didistribusikan secara terbatas untuk pasien gagal ginjal di RSUP Cipto Mangunkusumo (Jakarta), RS Sarjito (Yogyakarta) dan RSUP Prof. Ngoerah, Bali.

Menurut dia, mengingat keterbatasan stok di Singapura, pemerintah akan mendatangkannya  dari Australia serta minta bantuan Lembaga PBB, UNICEF.

Sejauh ini ada 241 anak terserang ginjal akut tersebar di 22 provinsi di Indonesia, 133 diantaranya atau 55,1 persen nyawanya tidak tertolong lagi.

DKI Jakarta dengan 86 pasien, 40 diantaranya meninggal, menempati tempat teratas kasus gagal ginjal akut pada anak dari seluruhnya 22 propinsi, disusul Jawa Barat (31 korban, 17 meninggal) dan Jawa Timur (30 korban, 13 meninggal).

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyatuti menyebutkan, 60 pasien (85 persen) gagal ginjal adalah balita, dan sisanya anak dalam rentang usia lima sampai 18 tahun.

Seperti dikatakan Menkes, kedatangan obat Fomepizole diharapkan dapat menekan fatality rate atau angka kematian gagal ginjal anak yang relatif sangat tinggi.

Ke depannya, yang juga tak kalah pentingnya, penyelidikan pada industri farmasi yang menggunakan propilen glikol sebagai pelarut obat, apakah takarannya sudah sesuai dengan yang didaftarkan, terus apakah BPOM tidak pernah mengeceknya?

Kenapa setelah 133 anak meninggal, baru diramaikan?

 

 

 

 

 

Advertisement