
HASIL Pemilu Thailand yang digelar Minggu lalu (14/5), seperti diperkirakan dari hasil sejumlah jajak pendapat, dimenangi oleh tokoh-tokoh muda properubahan yang anti kemapanan
Kelompok oposisi yang ditampilkan oleh Partai Bergerak Maju pimpinan Pita Limjaroenrat (42) dan Partai Pheut Thai yang mencalonkan Paetongtarn Shinawatra dari 99 persen hasil perolehan suara yang sudah masuk, memperoleh dukungan dari 39 juta atau 75 persen pemilih.
“Saya Pita Limjaroenrat adalah perdana menteri Thailand berikutnya. Kami siap membentuk pemerintahan dan bersumpah menjadi perdana menteri untuk semua. Ini adalah hari baru yang berlimpah sinar matahari dan harapan, “ ujarnya.
Walau memenangkan pemilu, Pita tidak otomatis diangkat menjadi PM, tetapi harus berkoalisi dengan enam aliansi partai lain yang diusulkan  yang menguasai 309 dari 500 kursi di parlemen.
Itu pun belum cukup karena diperlukan 376 suara untuk memastikan agar para senator tidak menghalangi upaya Pita untuk ampai ke tampuk kekuasaan menjadi orang nomor satu di Thailand.
Pasalnya,  dalam sistem ketatanegaraan Thailand, pemenang pemilu tidak otomatis menjabat PM mengingat 250 dari 750 kursi di parlemen adalah penunjukan militer, hanya 500 kursi yang diperebutkan dalam pemilu legislatif.
Sementara Partai Pheu Thai pimpinan keluarga mantan PM Thaksin Shinawatra yakni Paetongtarn Shinawatra sejauh ini setuju dengan usulan Pita karena Pheu Thai yang biasanya mendapatkan suara terbanyak setiap Pemilu kini menghadapi persaingan ketat dari Partai Bergerak Maju.
Dorong Perubahan
Partai Bergerak maju unggul karena kampanyenya untuk mendorong liberalisasi dan perubahan secara berani, termasuk rencana amendmen UU Lese Mayeste yang ketat terkait pasal penghinaan terhadap monarki.
Terdapat kemiripan visi dan misi dan dukungan yang tumpang tindih antara Partai Bergerak Maju dan Pheu Thai terkait amendmen konstitusi militer tahun 2017 dan peningkatan upah minimum.
Selain dengan Pheu Thai dipimpin Paetongtar Shinawatra yang puteri bungsu mantan PM Thaksin Shinwatra, Pita juga menggandeng Partai Bhumjaithai yang memiliki 71 kursi di parlemen walau selama ini berada di koalisi militer.
Sebaliknya, partai-partai koalisi militer bisa saja membentuk pemerintahan minoritas dengan mengandalkan dukungan senat untuk mendapatkan PM pilihan mereka seperti terjadi dalam Pemilu 2019 saat Prayut Chan-ocha menjadi PM dan memimpin koalisi multi partai meski pun Pheu Thai memenangi kursi terbanyak.
Dalam Pemilu kali ini, Partai Persatuan Bangsa dipimpin Prayuth hanya mendapatkan 36 kursi sehingga walau dengan dukungan Partai Bumijaithai dan senat bisa mengusung calon PM, koalisi semacam ini bakal kesulitan untuk menjalankan pemerintah.
Perkembangan selanjutnya masih dinamis, sehingga belum bisa dipastikan siapa yang nantinya akan keluar sebagai PM Thailand yang baru. (Reuters/AP/AFP)




