
NEW YORK – Laporan terbaru PBB pada Rabu (27/6/2018) menyebut lebih dari 10.000 anak tewas atau mengalami penyiksaan akibat konflik bersenjata di seluruh dunia tahun lalu.
Sementara lainnya diperkosa, dipaksa menjadi tentara anak-anak atau terjebak dalam serangan terhadap sekolah dan rumah sakit.
Menurut laporan tahunan berjudul “Anak-Anak dan Konflik Bersenjata” itu, pelanggaran anak meningkat tajam selama 2017, dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih dari 21.000 pelanggaran hak-hak anak dilaporkan sepanjang 2017.
Sementara itu PBB menilai koalisi Arab yang didukung Amerika, yang bertempur di Yaman, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian atau luka-luka pada separuh atau lebih dari 1.300 anak di negara miskin itu.
Diantara korban tewas yang dihitung dalam laporan itu adalah tentara anak-anak yang berusia 11 tahun dalam perang saudara di Yaman dan negara-negara lain.
“Intinya adalah anak-anak ini seharusnya tidak diperlakukan sebagai ’anak-anak yang kurang beruntung.’ Mereka berhak memperoleh hak yang sama sebagaimana setiap anak, untuk menjalani hidup mereka dengan penuh arti dan mendapat kesempatan untuk pulih,” ujar Virginia Gamba, Utusan Khusus PBB Untuk Isu Anak-Anak dan Konflik Bersenjata, dikutip VOA.
Laporan juga mencatat bahwa 21.000 pelanggaran hak anak-anak itu mencakup 10.000 anak yang dibunuh atau tersiksa, khususnya di Irak, Myanmar, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Sudan Selatan, Suriah dan Yaman. Angka itu meningkat dramatis dari 15.500 kasus semacam itu pada 2016.




