
JENEWA – PBB meminta adanya gencatan senjata atau jeda kemanusiaan untuk mengizinkan sekitar 20.000 warga sipil yang terjebak agar dapat melarikan diri dari kota Raqqa di Suriah.
PBB mendesak koalisi pimpinan AS untuk mengendalikan serangan udara yang telah menyebabkan korban jiwa.
Amnesty International mengatakan pada hari Kamis (24/8/2017) bahwa sebuah kampanye koalisi pimpinan AS untuk menggulingkan negara Islam dari Raqqa telah membunuh ratusan warga sipil, dan mereka yang tersisa menghadapi risiko yang lebih besar saat pertarungan tersebut dan kemungkinan meningkat dalam tahap akhir.
“Pada Raqqa, desakan kami hari ini dari pihak PBB kepada anggota gugus tugas kemanusiaan, adalah bahwa mereka perlu melakukan apapun yang mungkin memungkinkan warga dapat melepaskan diri dari Raqqa,” imbau Jan Egeland, penasihat kemanusiaan PBB di Suriah , Kepada wartawan di Jenewa, dikutip Reuters.
“Perahu di sungai Efrat tidak boleh diserang, orang yang keluar tidak harus terkena risiko serangan udara kapan dan dari mana mereka keluar,” katanya.
“Sekarang adalah waktu untuk memikirkan kemungkinan, jeda atau lainnya yang dapat memfasilitasi pelarian warga sipil, mengetahui bahwa pejuang Negara Islam melakukan tindakan terbaik mereka untuk menggunakannya sebagai tameng,” katanya.
Egeland mengatakan jika jeda kemanusiaan disepakati antara pihak yang berperang pada Desember lalu untuk memungkinkan evakuasi warga sipil dari daerah Aleppo yang dikuasai pemberontak.
Namun dia menambahkan bahwa PBB tidak memiliki kontak dengan pejuang negara Islam yang telah menguasai Raqqa sejak tahun 2014.




