
GEBRAKAN Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman melawan praktek rasuah di lingkungan istana , tidak pelak lagi menciptakan perpecahan di kalangan dinasti Arab Saudi yang dibentuk Raja Abdulaziz bin Saud pada 1932.
Kekompakan silsilah Ibnu Saud yang terjalin sejak 85 tahun diambang perpecahan di tengah kesulitan ekonomi akibat anjloknya harga minyak bumi dan peralihan tampuk kekuasaan dari generasi kedua ke generasi ketiga dinasti Ibnu Saud.
Raja Salman bin Abdulaziz (82) hampir dipastikan akan menjadi sosok generasi kedua terakhir keturunan Saud yang nantinya akan digantikan oleh Putra Mahkota, Pangeran Mohammed (32).
Perpecahan di kalangan istana menajam setelah Pangeran Mohammed bin Salman dinobatkan sebagai putra mahkota Juni lalu, menggantikan Pangeran Mohammed bin Najef, putera Najef bin Abdulaziz.
Gebrakan anti rasuah yang dilancarkan penguasa Arab Saudi, selain disambut baik oleh sejumlah kalangan, di dalam dan luar negeri, juga menuai kecurigaan, apa kah di balik itu ada agenda terselubung lainnya?
Pengetatan anggaran dan perombakan sistem ekonomi Arab Saudi memang mutlak, karena mengacu pada kalkulasi IMF, anggaran berimbang hanya bisa dipertahankan jika harga minyak berada di level 86 dollar AS per barrel, padahal sejak 2014 harga emas hitam itu sudah melorot di bawah 50 dollar.
Praktek korupsi di kalangan istana di Arab Saudi yang menerapkan sistem monarki absolut selama ini tidak terusik karena dilakukan oleh keluarga sendiri, lagi pula, tidak mengganggu kemakmuran negeri itu yang kekayaannya melimpah ruah dari berkah jutaan barrel minyak yang mengucur setiap hari.
Kalangan istana yang menikmati uang rasuah selama puluhan tahun menganggap manuver yang dilancarkan Pangeran Salman merupakan bagian pertarungan untuk memuluskan jalan baginya menuju singgasana kerajaan Arab Saudi.
Sebaliknya , pembentukan Komisi Anti Rasuah melalui dekrit Raja Salman Sabtu lalu yang terkesan dadakan, juga bisa dianggap sebagai tindakan antisipatif untuk mencegah serangan balik dari para koruptor.
Mohammed bin Salman dalam gebrakannya, menyiduk 11 pangeran, 38 mantan dan wakil menteri serta pengusaha terkemuka – seluruhnya 208 tersangka – yang diduga terlibat berbagai kasus praktek rasuah di negeri itu.
Pangeran Miteb bin Abdullah, putera Raja Abdullah, pendahulu Raja Salman bin Abdul Aziz al- Saud yang menjabat menteri Garda Nasional dan Pangeran Alwaleed bin Talal termasuk diantara 11 pangeran yang ditersangkakan.
Pangeran Alwaleed adalah pimpinan Kingdom Holding yang a.l. memiliki saham News Corp, induk perusahaan Fox TV, Hotel Savoi, Grup Citi dan Twitter serta mendapat julukan sebagai salah satu orang terkaya di dunia versi majalah Forbes.
Nilai uang yang dikorup pun tidak tanggung-tanggung. Menurut Jaksa Agung Saud al-Mojeb, 208 tersangka diduga menilap uang kerajaan senilai 100 juta dolar AS (sekitar Rp 1.350 triliun) atau setara dengan lebih dari separuh APBN Indonesia.
Pihak AS disebut-sebut ikut berperan dalam sepak-terjang yang dilakukan Pangeran Mohammed, mengingat kehadiran sejumlah konsultan ekonomi dan politik seperti grup Boston Consulting, grup Mc Kinsey dan Oliver Wyman Consulting yang “mengawal” kebijakannya.
Dari sisi rivalitas diantara kalangan istana, Pangeran Mohammed untuk sementara tampaknya unggul, walau dinamika politik di kalangan dinasti Arab Saudi belum berujung.
Sesuatu di luar dugaan bisa saja terjadi. (AFP/AP/Reuters/ns)
angka dicokok oleh komisi anti rasuah (semacam KPK) pimpinan Raja Salman yang dibentuk pekan lalu dalam upaya menyelamatkan dana masyarakat dan mengadili para koruptor yang memanfaatkan kekuasaan mereka.



