Pejuang Kurdi Klaim Sepakat dengan Pemerintah Suriah Lawan Pasukan Turki

Militer Turki berjaga di Afrin/ AFP
SURIAH – Pejuang Kurdi di Suriah utara mengatakan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan dengan pemerintah Suriah di mana ia akan mengirim pasukan untuk membantu mengusir serangan Turki.

Namun Pemerintah Suriah di Damaskus tidak memberikan konfirmasi.

Turki menganggap pejuang Kurdi, tepat di seberang perbatasannya di Afrin, sebagai teroris dan melancarkan serangan besar terhadap mereka bulan lalu.

Hingga saat ini tidak ada kehadiran militer Suriah di daerah tersebut.

Seorang pejabat senior Kurdi, Badran Jia Kurd, mengatakan kepada Reuters bahwa tentara pemerintah dapat memasuki wilayah Afrin dalam beberapa hari dan mereka akan menyebar ke beberapa posisi perbatasan.

Kesepakatan tersebut juga dilaporkan oleh kelompok media Kurdi Irak Rudaw – yang mengutip seorang politikus Kurdi dari Suriah – dan sebuah kantor berita yang mendukung pasukan Kurdi Suriah.

Pasukan Presiden Bashar al-Assad mengundurkan diri dari daerah Kurdi utara pada tahun 2012.

Partai Kurdi Partai Persatuan Demokratik (PYD) kemudian dengan cepat mengambil alih, didukung oleh sayap bersenjata, the People’s Protection Unit (YPG).

YPG membersihkan kelompok pejuang negara Islam dari wilayah Suriah yang luas.

Turki berusaha menyingkirkan YPG dari Afrin karena melihat kelompok tersebut sebagai perpanjangan Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang, yang telah memperjuangkan otonomi Kurdi di Turki selama tiga dekade.

YPG menyangkal adanya hubungan militer atau politik langsung dengan PKK.

Militer Suriah dan YPG telah banyak menghindari konflik langsung dalam perang Suriah sejauh ini namun mengalami bentrokan sporadis.

Menurut Reuters, seorang pejabat politik Kurdi mengatakan bahwa Rusia dapat menolak kesepakatan antara YPG dan pemerintah Suriah karena hal itu mempersulit upaya diplomatiknya sendiri dengan Turki.

Situasinya semakin diperumit oleh milisi YPG yang menerima dana dari Amerika Serikat, sebagai sekutu dalam perang melawan ISIS.


Secara terpisah, Turki menolak menggunakan senjata kimia di Afrin setelah dituduh melakukannya oleh kelompok pemantau dan YPG.

Enam orang dilaporkan menderita gejala serangan gas saat pemboman sebuah desa namun Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan bahwa ini adalah “cerita palsu”.

Advertisement