JAKARTA – Dalam desain pembangunan nasional, desa selalu ditempatkan sebagai daerah pinggir. Dampaknya pembangunan kota terus melesat hingga melenyapkan sistem ekonomi, sosial dan budaya desa secara sistematis.
Ekonomi masyrakat desa yang berbasis pada pertanian dan perdagangan mikro, berubah menjadi budaya perkotaan yang cenderung pada ekonomi skala besar. Untuk membendung pengaruh tersebut, dibutuhkan peran pesantren sebagai pusat keagamaan, pendidikan dan budaya yang berguna menyeimbangkan tatanan tersebut.
Melalui cara itu pula perdesaan dapat lebih mandiri dan otentik sehingga mampu menjadi supporting partner dari wilayah perkotaan. Untuk itu Pekan Budaya Cigaru (PBC) hadir sebagai respons dari fenomena tersebut.
PBC diselenggarakan mulai Senin 18 hingga Kamis 21 Desember 2017 atas inisiatif dari Pondok Pesantren Pembangunan Miftahul Huda, Cigaru, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. Selain untuk mengembangkan ekonomi perdesaan, diselengggarakannya PBC juga sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
PBC dinilai dapat menjadi festival sekaligus ritual sehingga diharapkan lebih cepat menyatu dengan struktur nilai masyarakat setempat sekaligus dapat menghadirkan semangat Islam yang mencerahkan dan penuh kedamaian.
Dengan cara tersebut diharapkan pula informasi, komunikasi dan pengetahuan antar pihak dapat mengalir lebih lancar, dinamis dan menyenangkan sehingga lebih berdaya dalam melakukan proses transformasi sosial.
Gelaran PBC akan diawali dengan karnaval Sedina Dadi Wayang atau ‘Sehari Menjadi Wayang’. Tema wayang dipilih karena merupakan bentuk kesenian paling populer dan atraktif di mata masyarakat desa, di samping mengandung unsur transformasi moral dan spiritual.
Ketua Sekolah Tinggi Sufyan Tsauri Majenang sekaligus panitia acara Idris Hasan menuturkan pada sebelum pementasan wayang, juga diselenggrakan seminar bertajuk pengentasan masalah bangsa ditinjau dari sudut pandang budaya lokal.
“Seminar ini diisi oleh guru besar dan dosen dari UGM, UI dan IAIN Purwokerto,” kata Idris kepada KBK (18/12).
Agar lebih menarik, wayang ditampilkan sesuai selera visual dan pertunjukan masa kini yang lebih bebas dan luwes dalam berkespresi namun dengan tetap menjaga semangat. Para pemain yang berasal dari masyarakat, santri dan komunitas bakal mengenakan kostum wayang, adat dan pakaian eksprimental sebagai manifestasi rasa syukur dan kreativitas.
Karnaval akan berlangsung dari makam pahlawan di alun-alun kota Majenang menuju lokasi pondok pesantren di dusun Cigaru sebagai refleksi terhadap perjuangan KH Sufyan Tsauri sebagai pengasuh pesantren sekaligus tokoh kharismatis masyarakat Majenang dalam memimpin perang gerilya.
“Iya acara ini digelar juga sebagai haul Kh Sufyan Tsauri dimana beliau mulai memimpin perang geriliya melawan penjajah dari sini,” tambahnya
PBC juga akan dimeriahkan oleh para santri yang membuat batik, lokakarya pengobatan herbal, bimbingan menulis kreatif oleh sastrawan Raudal Tanjung Banua, pelatihan menggambar dan lain sebagainya.





