JAKARTA – Ustad Budi Budiman, salah satu Dai Cordofa membagikan pengalamannya mengenai eksistensi menjadi seorang Dai bersama Dompet Dhuafa.
Dalam Online Talkshow ZTV.ID, Ustad Budi menuturkan, jika sejak tahun 2017 dia mulai bergabung dengan Dompet Dhuafa, dan diberangkatkan ke Taipei, Taiwan, hingga ke Myanmar.
Berangkat dari situ, motivasi untuk berdakwah Ustad Budi sangat besar dan sangat luar biasa, tidak hanya untuk ke luar negara tapi juga ke daerah, dalam kondisi apapun, jika Dompet Dhuafa memanggil dia akan menerimanya.
Misalnya selain ke luar negri, Ustad Budi juga melakukan perjalanan menjadi dai samudera dengan rute pemberangkatan Tanjung Priuk- Tanjung Perak, Surabaya yang harus dijalani selama tujuh hari perjalanan.
“Perjalanan luar biasa di kapal tujuh hari, tugas disana. Selama perjalanan tugas dai samudera ini banyak sekali kisah yang kita temukan, pengalaman yang luar biasa didapat,” ujarnya.
Miisal momen 17 agustus di kapal feri, merasakan nasionalisme bersama penumpang dan awak kapal merayakan 17 agustus bersama-sama.
“Kita tugas sebagai dai samudera selain tugas harian, kita mengisi solat berjamaah, karena di kapal hanya tiga waktu, duhur ashar dijama, magrib isya juga. Setiap habis solat jamaah kita mengsiis tausiyah memberikan tentang mengenalkan dompet dhuafa, kajian sebuah wawasan atau pengertahuan pada penumpang dan para awak kapal,” ujarnya.
Lebih luar biasa lagi, ketika Ustad Budi bergabung dengan Dai tapal batas yang jauh berbeda dengan pengalaman sebagai Dai Ambasador.
“Pertama dikirim ambasador dengan berbagai fasilitas pesawat, bertemu dubes, ketika ditugaskan ke tapal batas jauh berbalik sama dai ambasador,” ungkapnya.
Ketika itu Ustad Budi dikirim ke daerah di Kalimantan Timur, yaki Desa Gabung, Kecamatan Tering, Kutai Barat.
Berbagai pengalaman berbeda didapat mulai dari tidak adanya signal hingga listrik, dan tinggal di wilayah yang rentan banjir karena seringkali terkena luapan Sungai Mahakam.
Meski berbagai kendala kerap dihadapi, namun bagi Ustad Budi bukanlah sesuatu yang menghalanginya untuk berdakwah.
“Mudah-mudahan bukan hanya pengalaman, tapi jadi catatan amalan, umumnya juga bagi struktural yang ada di dompet ddhuafa, bisa jadi passive income dalam amalan yang akan terus mengalir hingga alam kubur,” harapnya.





