Pengertian dan Peran Penting Ikrar Wakaf

0
125
Chiki Fawzi tunaikan wakaf Rp10.000 di konter Dompet Dhuafa BXC. Tangerang Selatan/ Foto: dompet dhuafa

JAKARTA – Wakaf adalah tindakan memisahkan atau memberikan sebagian dari harta milik seseorang untuk digunakan dalam periode tertentu sesuai dengan tujuan ibadah atau kesejahteraan umum sesuai dengan hukum syariah.

Dalam konteks wakaf, salah satu elemen penting adalah ikrar wakaf. Apa yang dimaksud dengan ikrar wakaf?

Istilah ikrar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengacu pada janji atau pengakuan yang diberikan dengan sungguh-sungguh oleh seseorang. Dalam konteks hukum Islam, ikrar wakaf dapat didefinisikan sebagai pernyataan dari pewakaf (wakif) yang menyatakan niatnya untuk mewakafkan harta atau propertinya kepada pengelola wakaf (nazir).

Ikrar ini berfungsi sebagai bukti konkret dari pemberian harta wakaf oleh pewakaf kepada pengelola wakaf. Sehingga, dapat dipastikan keabsahannya sesuai dengan hukum dan syariah Islam.

Oleh karena itu, niat untuk berwakaf harus dinyatakan secara resmi kepada pengelola wakaf agar harta atau properti yang diwakafkan dianggap sah.

Pentingnya Ikrar Wakaf

Ikrar bukan hanya merupakan salah satu syarat untuk mengesahkan status harta wakaf, tetapi juga memiliki peran yang lebih dalam. Melalui ikrar, pewakaf secara tegas menunjukkan niat dan komitmennya untuk berwakaf.

Ini penting karena Allah telah menjanjikan pahala yang berlimpah bagi mereka yang berwakaf, bahkan setelah pewakaf meninggal dunia. Hadis Bukhari menggarisbawahi pentingnya niat sebagai dasar untuk mendapatkan pahala.

Dengan demikian, ikrar wakaf bukan hanya formalitas, tetapi juga menjadi alat untuk memperkuat dan melindungi harta wakaf serta meneguhkan niat baik pewakaf untuk memastikan bahwa wakaf tersebut sah dan berdampak positif.

1. Bentuk Kesungguhan Pewakaf

Tidak cukup hanya diniatkan dalam hati, harta yang diwakafkan perlu diikrarkan dengan disaksikan oleh pihak yang cakap mengelola wakaf. Niat yang kemudian diikrarkan merupakan paket lengkap untuk menunjukkan kesungguhan hati pewakaf.

Dengan niat dan ikrar yang jelas untuk berwakaf, Allah telah menyiapkan pahala yang berlimpah walaupun si pewakaf sudah meninggal dunia. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah membahas tentang kedudukan niat yang menjadi dasar balasan yang didapat.

Dari Umar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.” (HR Bukhari)

2. Dilingungi oleh Hukum

Berikutnya, ikrar wakaf sangat penting karena memberikan perlindungan hukum pada harta yang diwakafkan. Maka, harta atau benda wakaf tidak menimbulkan masalah. Dalam Undang-undang, ikrar wakaf ditetapkan pada Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004.

Maka dari itu, harta wakaf tidak akan diambil secara paksa oleh pewaris untuk ditarik kembali. Sebab, banyak terjadi kasus harta wakaf diambil kembali karena tidak adanya dokumen sah dari wakaf tersebut.

3. Terhidar dari Persoalan yang Membahayakan Harta Wakaf

Selama pemilik harta atau benda wakaf masih hidup, kemungkinan besar harta wakaf tetap digunakan untuk kepentingan sosial. Namun, persoalan bisa saja terjadi jika pemilik meninggal dunia belum melakukan ikrar wakaf.

Jadi dengan adanya akta wakaf yang diatur oleh UU, maka kedudukan harta wakaf menjadi kuat sehingga dapat mencegah penyalahgunaan harta wakaf.

Advertisement div class="td-visible-desktop">