Pengungsi Korban Longsor Ponorogo Mulai Stres

PONOROGO – Pengungsi korban longsor Ponorogo sudah mulai tidak betah berlama-lama tinggal di pengungsian dan kondisi psikologis pengungsi sudah mulai labil.

Demikian salah satu hasil identifikasi tim psikolog dari Polda Jawa Timur yang menangani kejiwaan seluruh pengungsi korban longsor di pengungsian.

Wakil Ketua Tim Psikolog Polda Jatim, AKP Heri Dian Wahono, menuturkan Polda Jatim menurunkan enam psikiater dan dibantu 10 psikiater dari Polres Ponorogo. Total ada 16 psikiater yang diterjunkan memantau perkembangan kejiwaan pengungsi.

Heri menuturkan dari hasil observasi umum yang telah dilakukan, sebagian besar pengungsi sudah mulai stres terhadap kondisi yang mereka hadapi. Kelompok rentan stres ini antara lain anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia.

Namun, hingga kini dia belum menemukan pengungsi yang stres berat. “Memang ada yang sudah mengalami stres tapi hanya stres ringan. Kalau stres berat belum ditemukan,” katanya, dilansir Madiunpos, Minggu (9/4/2017).

Mereka merasa  bosan di posko pengungsian karena mereka juga tidak bisa beraktivitas seperti biasa.

Dia mencontohkan biasanya mereka setiap pagi ke ladang untuk beraktivitas tapi saat ini aktivitas itu tidak bisa dikerjakan. Setiap pagi biasanya mempersiapkan makanan dan beraktivitas di rumah, tapi saat ini tidak bisa.

“Selain itu soal privasi, karena di pengungsian kan mereka tidak punya ruang privasi karena semuanya bareng-bareng. Ini juga menjadi tekanan tersendiri bagi pengungsi,” jelas dia.

Selain itu, pengungsi juga mengalami kecemasan jika terjadi longsor susulan. Kekhawatiran ini juga menjadi pemicu gangguan kejiwaan pengungsi.

Dalam menangani kondisi itu, Heri mengatakan psikiater memberikan bantuan konseling kepada pengungsi yang dewasa dan lansia. Petugas mendengar cerita dan keluhan yang dirasakan pengungsi selama tinggal di pengungsian.

Selain itu, petugas juga mendata kebutuhan para pengungsi selama tinggal di pengungsian. “Semua kebutuhan kami catat. Misalnya Ariska yang kehilangan suami dan kedua orang tuanya, dia kan masih punya bayi kami data seluruh kebutuhannya mulai pakaian hingga kebutuhan bayi,” jelas dia.

Sedangkan untuk anak-anak dilakukan trauma healing dengan mengajak bermaian dan memberikan cerita-cerita motivasi. “Anak-anak ini kan kebutuhannya bermain, jadi kami berikan permainan supaya sejenak mereka tidak trauma atas apa yang terjadi,” kata Heri.

.

Advertisement