JAKARTA (KBK) – Dalam diskusi bertema “Rekomendasi Koalisi Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia” dikatakan bahwa penyebaran TB di Indonesia yang memprihatinkan dapat memukul industri pariwisata.
Menurut Ketua Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI) Arifin Panigoro Indonesia menempati urutan ke dua di dunia dalam kasus penyebaran TB dan sangat berdampak terhadap bisnis dan pariwisata tanah air.
“Tingginya jumlah penderita TB berpotensi menurunkan tingkat kunjungan wisatawan ke Indonesia maupun sebaliknya. Sehingga dibutuhkan upaya optimal dari semua pihak dalam mengatasi kedaruratan TB di Indonesia,” jelas Arifin di Jakarta, Rabu (8/3).
Dalam diskusi terbutu turut hadir selaku tuan rumah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Lakis Hatalkar Vice President GFO Johnson & Johnson Asia Pasific. Berdasarkan data yang dilansir WHO ada 1,6 juta pengidap TB di Indonesia.
Arifin juga menegaskan bahwa FSTPI akan berkomitmen penuh melakukan upaya-upaya pengendalian TB, salah satunya dengan merangkul berbagai pihak seperti CSO, layanan kesehatan dan dunia industri dan farmasi.
“Sekurang-kurangnya FSTPI dapat melakukan upaya promotive dan preventve di lingkungan masing-masing dengan melakukan penyuluhan secara masif,” tukas Arifin
Menimpali ucapan Arifin, Lakish menyampaikan bahwa pihaknya mendukung dan berkomitmen terhadap pemberantasan TB guna menangkal penurunan jumlah wisman dan mendongkrak kesehatan masyarakat Indonesia.
“Fakta menunjukan bahwa kelompok usia produktif merupakan kelompok penderita terbesar. Maka partisipasi aktif dari sektor industri sangat penting. Kami percaya bahwa sektor industri dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam menurunkan jumlah kasus TB di Indonesia,” jelas Lakish.





