Perang Iran vs AS di Mata Media dan Pengamat Lokal

BERLANJUT tidaknya perang pamungkas antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) – dan kemungkinan Israel jika bergabung – bak menebak suara tokek: “jadi, tidak, jadi, tidak,”

Sejak serangan AS ke Iran pada 28 Feb. lalu, kedua belah pihak sepakat gencatan senjata selama dua pekan (8 – 22 April), lalu diperpanjang sepihak tanpa batas waktu oleh Presiden AS Donald Trump.

AS dan Iran meneken MoU perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari pada 28 Mei lalu, walau keduanya terus saling ancam, bahkan saling serang.

Komando Pusat AS (Centcom) mengaku telah menyerang fasilitas radar Iran di pintu laut strategis, Bandar Abbas (28/5) dan di P. Qeshm, Selat Hormuz (3/6 ) , sebaliknya Iran terus meluncurkan rudal balistik dan drone-drone andalannya: Shahed-136 ke sejumlah fasilitas AS di Teluk, Bandara Int’l Kuwait serta Bahrain. Saling serang masih berlangsung sampai Minggu (7/6).

Bagi Presiden Trump, keputusan untuk melanjutkan atau mengakhiri perang agaknya lebih banyak terkait kalkulasi politik di dalam negerinya, di Kongres, partai dan konstituennya sambil terus mengancam Iran untuk menerima tuntutan AS atau dihancurkan.

DPR AS, Rabu lalu (3/6) mengesahkan resolusi yang membatasi kewenangan Presiden Trump untuk melanjutkan operasi militer tanpa persetujuan Kongres, walau ia masih memiliki hak veto, dan Partai Republik masih menguasai suara di DPR dan Senat.

Trump kalah Voting
Dalam voting di DPR terkait pembatasan kewenangan Trump tersebut, 215 suara mendukung resolusi termasuk empat anggota Fraksi Partai Republik yang membelot dan 208 menentang.

Sementara itu, tuntutan utama AS terhadap Iran a.l penghentian program nuklir Iran, verifikasi ketat pengayaan uranium oleh Badan Atom Internasional (IAEA), penghentian dukungan kepada milisi Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza serta membuka alur pelayaran Selat Hormuz sesuai kebebasan bernavigasi yang tertuang dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS 1982).

Sebaliknya, Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi primer dan sekunder oleh AS dan Barat yang melumpuhkan ekonominya, ganti rugi dampak sanksi tersebut dan juga kerusakan akibat serangan AS, penarikan pasukan AS dari seluruh kawasan Teluk dan pengakuan penuh int’l terkait kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

Sementara itu pemimpin Iran terus menggelorakan semangat perang demi mendapatkan dukungan rakyatnya dan juga dunia, walau diam-diam di belakang layar, selain yang dimediasi oleh Pakistan, perundingan dengan AS juga terus berjalan.

Di dalam negeri Iran, perang menciptakan musuh bersama di tengah kesulitan ekonomi akibat sejumlah sanksi oleh AS dan sekutunya sejak 1979 dan akibat kerusakan prasarana dan sarana umum akibat perang 12 hari Iran vs koalisi AS dan Israel (13 – 24 Juni 2025), dilanjutkan sejak 28 Feb. 2026 sampai hari ini.

Sebelumya Iran diguncang gelombang unjukrasa di lebih 25 provinsi di tengah kesulitan ekonomi ditandai hyperinflasi, menewaskan ribuan warga akibat bentrok antara pendemo dan aparat keamanan.

Iran “PD” lanjutkan perang
Iran tampak masih”PD” meneruskan perang, mengandalkan ribuan rudal balistik dan drone yang terbukti (combat proven) berhasil menjangkau wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk dan disebut-sebut masih banyak stoknya.

Sebaliknya, pihak AS mengeklaim, sudah memusnahkan sebagian besar situs peluncuran rudal dan drone serta kekuatan AU dan AL Iran. Berdasarkan pernyataan teranyar Presiden Trump, rudal-rudal Iran hanya tersisa sekitar 20-an persen saja.

Jika perang pecah lagi, AS dan Israel (jika ikut terjun) vs Iran bakal “all-out” atau habis-habisan dengan segenap daya dan tipu-muslihat untuk menuntaskannya.
Kemungkinan skenarionya: AS akan memanfaatkan “firing power”-nya yakni supremasi udara dan laut didukung teknologi cybernya untuk melancarkan serangan ke target-target terpilih.

Situs-situs peluncuran rudal balistik dan drone Iran bakal menjadi target utama rudal jelajah Tomahawk, bombardemen dari pesawat tempur dan kapal perang AS, selain pusat komando dan fasilitas militer lainnya.

Anggota marinir kemungkinan akan didaratkan dari kapal-kapal serang amfibi dan Brigade Lintas Udara ke-82 akan diterjunkan ke lokasi tertentu untuk “menyekat” Selat Hormuz dan mengisolasi pasukan Iran.

Sebaliknya, Iran akan meluncurkan seluruh sisa rudal dan drone yang dimilikinya untuk menyerang Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk, sementara ratusan kapal motor cepat rudal (FBM) “armada nyamuk” agaknya bakal dikerahkan untuk mengganggu pendaratan marinir AS.

Proksi-proksi Iran yakni Houthi di Yaman, Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon diharapkan ikut membuka front sehingga fokus AS dan juga Israel terbelah.

Siapa pemenangnya?
Media arus utama Indonesia, baik cetak, elektronika, mau pun online, juga medsos, dalam laporan penulisan/program dialog di TV, tersirat maupun langsung, umumnya condong bahkan meyakini, Iran menang.

Alasannya, Iran bertempur di “kandang” sendiri di medan yang dikuasainya, unggul dalam jumlah personil dan masih memiliki stok ribuan rudal balistik dan drone tempur/kamikaze.

Jika pertempuran darat pecah, sekitar 910.000 personil militer Iran termasuk 610.000 pasukan reguler dan IRGC plus 300.000 personil cadangan, ribuan tank, artileri dan rudal siap menghadang marinir dan Brigade Lintas Udara ke-82 AS.

AS diberitakan sudah menyiapkan sekitar 5.000 anggota marinir di tiga kapal serbu amfibi di sekitar perairan dekat Iran dan 2.000-an personil Brigade ke-82 di pangkalan AS di negara Teluk yang dirahasiakan.

Jika jadi perang, adu kuat, teknologi, taktik dan strategi bakal diuji di palagan nyata (real battle field), yang sama sekali berbeda dengan retorika atau glorifikasi perang.

Alutsista canggih, presisi dan mematikan milik AS bakal diuji melawan personil pasukan reguler Iran dan IRGC yang jauh lebih besar jumlahnya, menguasai medan dan disebut-sebut memiliki semangat tempur tinggi.

Hanya mengandalkan jumlah personil, penguasaan medan,rudal-rudal balistik serta drone, tanpa “payung udara” yakni pesawat-pesawat tempur dan “tembok laut” berupa kapal kapal perang, mampu kah Iran bertahan dari gempuran AS (dan juga Israel) ?

Presiden Trump sendiri dalam pernyataan kontroversial terbarunya (7/6) selain menyampaikan keinginannya betemu dengan Pemimpin Tetinggi Iran Mojtaba Khamenei, juga menyebutkan, Iran bukanlah lawan setanding AS.

“Konflik antara AS dan Iran bukanlah perang besar, hanya latihan militer, ” tuturnya.
Apakah opini media didasari pemahaman tentang lika-liku militer dan persenjataan, bukan untuk mengejar “clickbait”/oplah, sekedar memuaskan pembaca/ pemirsa atau menghindari benturan dengan dengan mayoritas publik di akar rumput?

Para pengamat militer terkait isu Timur Tengah yang menjadi narasumber di media lokal termasuk pensiunan militer juga seiring dengan kebijakan pemberitaan media.

Mungkin karena minim referensi atau bacaan terkait persoalan militer dan alutsista, atau tidak ingin “nyari perkara”, ulasan mereka terkesan lebih bernuansa politis, atau dari sisi ekonomi dan “angle” lainnya, bahkan cenderung menunjukkan keberpihakan, mengikuti alur opini dan keyakinan publik akar rumput.

Kekuatan militer, walau bukan satu-satunya penentu hasil peperangan, tentu sangat penting, selain taktik, strategi, semangat dan doktrin tempur, intelijen, logistik, kondisi geografis, politik, kondisi ekonomi, ideologi, dan lainnya.

Di era perang konvensional modern now, pihak yang memiliki alutsista seperti pesawat tempur, kapal perang lebih canggih, rudal, drone berjangkauan lebih jauh, lebih akurat, sukar terdeteksi lawan dan lebih mematikan, dan ddukung teknologi cyber, AI, layaknya berpeluang besar memenangkan perang.

Begitu pula pihak yang memiliki alat penjejak, pelacak serta penangkal (sistem radar, rudal anti rudal, rudal pembunuh radar, pembuta (jammer) atau pengecoh lebih canggih juga besar kemungkinan menangnya.

Bagai langit dan bumi
Dari perimbangan militer, kekuatan AS sebagai negara super power dibandingkan Iran bagaikan langit dan bumi.

Global Firepower (GFP) 2026 melaporkan, anggaran militer AS bertengger di ranking ke-I sebesar 831,5 miliar dolar AS atau hampir separuh budget militer global. (dengan kurs Rp17.800) = Rp 14.800 triliun atau sekitar 4,7 x APBN RI).

Sedangkan Iran, di ranking ke-36 dengan budget militer 9,23 miliar (sekitar Rp164,3 triliun) atau sekitar sepersembilan puluh anggaran militer AS.

Besarnya anggaran pertahanan, walau bukan satu-satunya faktor untuk memprediksi hasil perang, mencerminkan kemampuan militer suatu negara (kecanggihan, mutu dan jumlah alutsista dan personil, frekuensi latihan dan simulasi tempur serta sarana serta prasarana militer lain).

GFP 2026 juga menempatkan AS di ranking pertama kekuatan militer, sedangkan Iran di ranking ke-16.

AD Iran didukung sekitar 2.000-an unit tank tempur utama (sebagian warisan Soviet) generasi ke-2, sebaliknya AS sekitar 4.600 unit (sekitar 4.000 unit M-1 Abrams) generasi ke-3 dengan sistem perlindungan awak dan alat bidik lebih mutakhir.

AL Iran mengoperasikan 150-an kapal perang dan 20-an kapal selam lawas Kelas Kilo eks-Soviet atau yang dimodifikasi di dalam negeri.

Sebaliknya AL AS mengoperasikan 290-an kapal perang termasuk 11 kapal induk, sembilan kapal serang amfibi, 27 kapal penjelajah, 75 kapal perusak, dan 70 kapal selam , sebagian bertenaga nuklir.

Di perairan Timur Tengah di tengah konflik saat ini, AS menempatkan belasan kapal perang termasuk tiga kapal induk serta tiga kapal serbu amfibi (Landing Helicopter Assault – LHA).

Ketiga kapal induk mengangkut masing-masing 75 pesawat tempur, termasuk siluman F-35/F-22 Raptor, sementara tiga kapal serang amfibi, selain mengangkut heli/pesawat tempur yang bisa ‘take-off/landing’ vertikal (VTOL), serta ribuan marinir.

AU Iran berkekuatan sekitar 180 sampai 300-an pesawat lawas generasi ke-3 warisan AS era ’70-an sampai 80′-an seperti F-4 Phantom, F-5 Tiger, A-4 Sky Hawk, A-14 Tomcat, SU-24 dan MiG-29 eks-Soviet serta Mirage-I eks-Perancis.

Yang dilawan Iran adalah kekuatan raksasa AS dengan sekitar 5.500 pesawat tempur generasi ke-4 seperti F-15E Eagle/F-16 Fighting Falcon, pesawat siluman generasi ke-5 seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II, bomber strategis B1 Lancer, B-2 Spirit serta pengebom lawas B-52 Stratofortress.

Keungggulan Iran, ribuan pucuk rudal balistik, sebagian rudal jelajah berkecepatan ‘hypersonic’ yang jika diluncurkan secara salvo, mungkin masih ada yang lolos dari sistem hanud Iron Dome Israel dan pangkalan AS di Timteng.

Selain sesumbar Presiden AS Donald Trump, laporan kantor-kantor berita transnasional mengutip sumber-sumber kredibel mengonfirmasi, AL dan AU Iran nyaris lumpuh akibat bombardemen masif oleh AS dan Israel.

Faktanya, selama perang sejak 28 Feb., pesawat-pesawat tempur AS dan Israel tampaknya memang leluasa menguasai wilayah udara Iran, nyaris tanpa perlawanan.

AL Iran kemungkinan memang sudah dilumpuhkan, karena ketimpangan teknologi melawan kapal-kapal perang AS. Yang masih tersisa, ratusan unit Fast Boat Missile (FBM) yang disebut “armada nyamuk” dengan jangkauan rudal terbatas.

Jomplangnya kekuatan militer AS dan Iran tercermin di hari pertama konflik (28 Feb) di mana puluhan tokoh kunci militer dan pemerintahan termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei terbunuh.

Mungkin juga sistem hanud Iran (radar, rudal dan pesawat-pesawat tempur) sudah “dibungkam” oleh serangan AS dan Israel di awal-awal perang, sehingga rudal-rudal anti pesawat (SAM) tidak berfungsi, padahal Iran mengoperasikan rudal anti pesawat S-300 eks-Rusia.

Sejauh ini AS cuma kehilangan empat pesawat tempur F-15E Strike Eagle. Satu hilang. Pilotnya berhasil diselamatkan dari wilayah Iran oleh tim SAR AS, tiga lainnya salah tembak (friendly fire) oleh sistem Hanud Kuwait.

Selain demi oplah atau “klickbait” mungkin juga “keberpihakan” media lokal pada Iran yang disuarakan oleh para narasumbernya, karena mereka ogah berseberangan dengan massa yang partisan mendukung Iran.

Atau bisa juga jika perspektif kemenangan, bukan dilihat dari capaian militer, tetapi dari keberhasilan Iran memosisikannya sebagai satu-satunya negara yang berani menantang hegemoni AS dan sepak-terjang ugal-ugalan Presiden Trump.

Ada pula yang menganggap Iran sebagai simbol perlawanan terhadap raksasa AS, dan “sukses” melambungkan harga minyak global sehingga membuat konsumen di AS kelabakan melalui aksinya menutup Selat Hormuz.

Keberpihakan publik
Sementara itu publik akar rumput di Indonesia, selain iliterasi terkait persoalan militer dan perang, agaknya juga terpancing narasi hoaks, berita pelintiran dan glorifikasi atau narasi retorik oleh pihak yang didukungnya.

Pada Perang Teluk di era 1990-an, publik di sini juga yakin, Irak di bawah Saddam Husein bakal memenangi perang melawan pasukan koalisi pimpinan AS, padahal faktanya, nyaris tidak ada perlawanan berarti saat pasukan koalisi memasuki Baghdad.

Antusiasme warga mendaftarkan diri menjadi relawan untuk dikirim ke Bosnia saat konflik di negara sempalan Yugoslavia itu pada era -90an, padahal mereka tidak terbiasa dengan cuaca dan medan di sana, juga patut dijadikan pelajaran.

Media dan para pengamat seyogianya memberikan pencerahan kepada publik terkait literasi perang, mendorong sikap fairness, cover both sides, dan agar tak mudah terpovokasi hoaks.

Obyektivitas media diwakili oleh para narasumber merupakan keniscayaan untuk membentuk karakter bangsa di tengah keterbukaan dan globalisasi di era now.

Sebaliknya, proses dialektika mandek, kebenaran dimonopoli kelompok tertentu, jika stigma “a-nasionalis” (tidak nasionalis), “antek musuh” atau “kafir” disematkan pada orang yang berbeda pendapat dengan mayoritas.

Last but not least, media dituntut berperan mengedukasi dan mencerahkan publik, agar penilaian mereka terhadap persoalan apa pun mengacu pada fakta, data dan angka secara obyektif, tidak karena sentimen identitas (SARA). (nanang sunarto/berbagai sumber)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here