“Perang Total” Lawan Narkoba Aja!

BISNIS narkoba tetap menggiurkan. Buktinya, walau sudah ditetapkan sebagai extraordinary crime dan perang untuk membasmi jaringannya sudah dicanangkan, penangkapan dan penyitaan zat haram itu tak pernah sepi.

Badan Nasional Narkoba (BNN) di Jakarta, Jumat pekan lalu (28/1) memusnahkan 99,7 Kg sabu, 9.900 butir ekstasi dan sekitar 118 Kg daun khat berasal dari kelompok jaringan antarpulau.

Pada hari yang sama, tim gabungan Polda Metro Jaya dan Polda Sumsel menangkap dua pengedar, IP (25) dan RR (24) yang diduga anggota jaringan yang dikendalikan Letto dari Sumsel dan Noval dari Jatim yang sudah diciduk lebih dulu.

Bersama IP, berhasil disita 25 Kg sabu dan empat Kg atau sekitar 10.000 butir ekstasi, sedangkan dari RR, disita 15 Kg sabu dan 12 Kg atau 30.000 butir ekstasi.

Pada 19 Agustus 2018 tujuh pengedar dengan barang bukti 150 Kg sabu diciduk di Langkat, sedangkan pada 29 Okt dari NH (31), RR (30), NJ (27), MJ (27) dan RR (33) yang diciduk di Kalsel, berhasil disita lima Kg sabu, 5.400 butir ekstasi dan 222.756 butir pil carnophen.

Kemudian A(38), Z (43) dan A (36) dicokok di Medan pada 26 Des. bersama 45 Kg sabu, enam Kg ketamin dan 40.000 butir eskstasi, sedangan pada 10 Jan. 2019 napi LP Tg. Gusta R bin A diciduk di perairan Aceh saat membawa 70 kg sabu dan 10.000 butir ekstasi.

Pengguna dan agen atau bandar narkoba juga terdiri dari beragam usia dan profesi termasuk oknum polisi dan militer, sipir penjara, bahkan politisi.

Kabar mengejutkan beredar, Senin (4/3) hari ini dengan tertangkap tangannya politisi dan petinggi, tepatnya Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arif tertangkap di sebuah kamar di Hotel Peninsula, Jakarta Barat, Minggu malam positif sebagai pengguna sabu.

Andi Arif dikenal sebagai politisi yang vokal dan kontroversial. Beberapa waktu lalu mengangkat isu uang mahar terkait pilgub Jatim dan juga menyebarkan isu hoaks tentang tujuh kontainer surat suara untuk pemilu April nanti yang sudah dicoblos berasal dari sebuah kapal dari LN yang sandar di pelabuhan Tg. Priok, Jakarta.

Narkoba Baru, Siapa Mau
BNN juga mengingatkan, selain produk-produk yang sudah dikenal lama, berbagai narkoba jenis baru dengan kemasan berbeda namun lebih kuat efeknya bermunculan di pasar Indonesia.

Hingga Juli lalu dilaporkan adanya 94 narkoba jenis baru yang masuk dan beredar di pasar Indonesia, namun belum semuanya diuji laboratorium oleh BNN.

Misalnya, blue ice dan ekstasi berbahan pentylone dan caffeine merupakan narkotika jenis baru yang ditemukan di Indonesia.

Blue ice yang bentuknya mirip bongkahan seperti gula batu mengandung hampir seratus persen metylamphetamine atau bahan sabu berkualitas super karena proses pembuatannya lebih lama ketimbang sabu biasa.

Peredaran narkoba saat ini memang sudah pada tingkat yang mencemaskan, mengingat diperkirakan 3,5 juta pengguna barang haram itu, satu juta diantaranya pecandu, dan sekitar 12.000 meregang nyawa setiap tahunnya, 1.000 orang setiap bulan atau lebih 30 orang meninggal setiap hari.

Kerugian ekonomi dan sosial akibat penyalahgunaan narkoba juga tidak tanggung-tanggung, sampai kini ditaksir tercatat sekitar Rp84,7 triliun.

“Perang Total” terhadap penyalahgunaan narkoba agaknya lebih tepat dikumandangkan, ketimbang untuk menyongsong pesta demokrasi yang harus mengedepankan kesatuan dan persatuan pada Pilpres 17 April nanti. (Kompas/NS)

Advertisement