
JIKA berita kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei benar, tentu menjadi peringatan bagaimana mudahnya keunggulan intelijen mengendus keberadaan sosok yang diincar dan presisi serta akurasinya senjata yang digunakan untuk membidik lawan.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana keberlanjutan perlawanan militer Iran termasuk satuan Garda Revolusi (IRGC), tak saja menghadapi mesin perang raksasa Amerika Serikat (AS) dan Israel, tetapi juga gejolak politik di dalam negeri.
Selain klaim yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump dalam akun medsosnya yang dikutip sejumlah media: AFP/The New York Times, al Jazeera mengamini terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei.
“Ia (Khamenei) tidak dapat menghindar dari sistem intelijen dan pelacakan sistem canggih kami, “ tutur Trump.
Disebutkan, Khamenei terbunuh, Sabtu (28/2) pagi, tetapi tidak diperinci lebih lanjut mengenai lokasi dan tepatnya “Orang No. 1” Iran itu menghembuskan nafas terakhirnya dan juga penyebab kematiannya.
Kantor Berita Iran Fars hanya menyebutkan, Khamenei meninggal di kantornya saat menjalankan tugas yang diemban kepadanya.
Kantor berita Tasnim dan Fars mengonfirmasi kematian Khamenei saat menjalankan tugas negara di kantornya di Teheran, saat AS dan Israel mengawali serangan gabungan berspektrum luas, Sabtu pagi (28/2) waktu setempat.
Menyusul kematian Khamenei, Iran mendeklarasikan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari hari libur nasional.
Bangunan Beith-e-Rahbari runtuh
Sebelumnya, dikutip dari New York Times, citra satelit dari Airbus Defence and Space memperlihatkan bangunan utama kompleks Beith-e Rahbari – tempat kerja Ali Khamenei di pusat kota Teheran – hancur total usai serangan Israel dan AS , Sabtu (28/2).
Beit-e Rahbari selama ini dikenal tidak hanya sebagai tempat tinggal sang pemimpin tertinggi, tetapi juga lokasi strategis untuk menjamu pejabat-pejabat senior Iran.
Berdasarkan foto udara tersebut, struktur bangunan yang menjadi kediaman langsung Khamenei beserta perimeter keamanan di sekitarnya tampak telah rata dengan tanah.
Sementara itu Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan dimulainya operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah negara, menyusul konfirmasi kematian Khamenei.
Kantor berita Fars, Minggu (1/3) menyebutkan, operasi ofensif akan dimulai beberapa saat lagi. IRGC menegaskan, serangannya akan menyasar seluruh wilayah Israel dan semua pangkalan militer AS di Timur Tengah.
“Tangan bangsa Iran akan melakukan pembalasan dan hukuman berat dan tegas, yang akan disesali para pembunuh Imam Umat (Ali Khamenei-red) dan mereka . tak akan dilepaskan ,” demikian pernyataan IRGC.
IRGC lebih lanjut menyampaikan duka atas wafatnya Khamenei. “Kita kehilangan seorang pemimpin besar dan kita berduka atas kepergiannya,” tulis pernyataan yang dimuat Fars.
Selanjutnya IRGC dalam pernyataannya menyebutkan akan berdiri teguh dalam menghadapi konspirasi di dalam negeri dan asing.
Sesuai tekadnya, IRGC dilaporkan telah meluncurkan ratusan rudal balistik selain ke wilayah Israel, juga ke 14 pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah (a.l di Bahrain, Oman, Uni Emirat Arab dan Kuwait), namun belum ada laporan adanya kerusakan berarti karena berhasil ditangkal pertahanan udara masing-masing.
Beberpa rudal balistik Iran dilaporkan lolos dari sistem hadangan sistem pertahanan udara berlapis (Iron Dome, David’s Slings dan Arrow), meruntuhkan sejumlah bangunan di kota terbesar da bekas ibu kota Tel Aviv dan menewaskan satu orang.
Awal serangan
BBC sebelumnya melaporkan (28/2), ledakan besar terdengar di kota Isfahan, Qom, Karaj, Kharmansyah, dan ibu kota Teheran yang mengawali “Lions Roar” atau Operasi Raungan Singa, Sabtu pagi (28/2) waktu setempat.
Sebaliknya, Iran dilaporkan Fars, melancarkan serangan rudal ke pangkalan AU AS di al Dafra, selatan Abu Dhabi, UEA, pangkalan AU Ali Al Salem, Bahrain serta pangkalan udara Al Udeid, Bahrain.
Presiden AS Donald Trump mengakui serangan gabungan bersama Israel dan menyerukan kepada pasukan AB dan Garda Revolusi Iran (IRGC) untuk menyerah atau dihancurkan.
Seperti diduga sebelumnya, AS dan Israel melancarkan serangan kilat dengan memanfaatkan teknologi dan kekuatan matra udara dan laut serta dukungan presisi intelijen untuk membungkam situs-situs militer, markas komando, jejaring komunikasi, sistem pertahanan udara, radar dan sarang-sarang rudal Iran serta menyasar tokoh yang diburunya.
Militer Israel menyebutkan, pada hari pertama, pihaknya melancarkan serangan ke 500 titik di Iran mengunakan 200-an pesawat tempur.
Sebaliknya, Iran berusaha mengguyur sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah dan wilayah Israel dengan ribuan stok rudal yang dimilikinya walau pun harus menghadapi tembok sistem pertahanan lawan.
Adu teknologi, sistem pelacakan dan Intelijen
Peran teknologi alutsista, sistem pelacakan dan intelijen banyak berbicara banyak dalam perang AS dan Israel melawan Iran kali ini. Siapa yang lebih unggul, agaknya dengan mudah dan cepat akan memenangkan perang!
Apakah rudal rudal balistik Iran mampu menembus sistem pertahanan berlapis Iron Dome, sistem Aegis atau Patriot milik Israel dan kapal-kapal induk serta belasan pangkalan militer AS di Timur Tengah?
Sebaliknya, apakah sistem pertahananan berlapis Israel dan AS termasuk yang disiapkan di kapal-kapal induk dan satelit mampu menahan guyuran ribuan rudal Iran yang konon ada yang kecepatannya hipersonik, berspesifikasi jelajah dan daya rusak lebih tinggi?
Sementara China dan Rusia yang selama ini dikenal berpihak pada Iran, selain mengecam keras serangan AS dan Israel ke Iran, belum terlihat ada indikasi untuk ikut terjun mendukung Iran.
Nasib perlawanan Iran sepeninggal Ali Khamenei akan ditentukan pada hari-hari mendatang, termasuk juga dari kelompok oposisi seperti Putra Mahkota Iran Reza Pahlavi dalam pengasingan serta kelompok mahasiswa yang selama ini turun ke jalan menentang rezim Khmenei. (AP/AFP/BBC/Al Jazeera/ns)




