Persoalan Rusia di Ukraina Timur

KONFLIK  militer antara kaum separatis  pro-Rusia di   Donbas, Ukraina Timur pada 2014 memanas lagi setelah santer isu, Presiden Rusia, Vladimir Putin akan mencaplok wilayah sengketa itu.

Dua kelompok etnis Rusia di kawasan Donbas saat itu mendeklarasikan negara Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Lugansk yang ditentang oleh pemerintah pusat Ukraina di Kiev dan sampai kini belum ada solusinya.

Spekulasi, menurut harian the Sun baru-baru ini,  menguat setelah konvoi kendaraan tempur dan pengangkut pasukan Rusia bergerak ke tapal batas dan siap memasuki Donbas, ditambah pernyataan tersirat Presiden Putin yang menyebut Rusia dan Ukraina “dalam satu kesatuan”. 

Sebelumnya Rusia dan Ukraina terlibat konflik sengit sejak pencaplokan wilayah Krimea oleh pasukan Beruang Merah pada 2014 dan juga terlibat konflik di Donbas yang   menewaskan sekitar 14.000 orang.

Otoritas Rusia dan Ukraina saling menyalahkan atas ketegangan yang terus memanas di perbatasan kedua negara, terutama sejak bentrokan di Donbas kembali terjadi awal tahun ini.

Ukraina yang dulu bernaung di bawah Uni Soviet, tulang punggung kekuatan Pakta Warsawa, merapat ke Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO), bahkan menggelar latihan bersama  “Sea Breeze” di Laut Hitam, 28 Juni sampai 10 Juli.

Insiden Kapal Perang Inggeris

Insiden yang terjadi antara kapal perusak Inggeris HMS Defender  dan armada Rusia di Laut Hitam 23 Juni lalu juga mencerminkan rawannya potensi konflik di wilayah itu melibatkan kekuatan int’l.

Rusia menuding pasukan penjaga pantainya telah mengusir kapal perang Inggeris tersebut yang telah memasuki wilayah  Cape Fiolent di kawasan Crimea yang dicaploknya dari Ukraina pada 2014.

Sebaliknya Inggeris mengakui kapal perangnya tak melakukan pelanggaran apa pun sesuai hukum internasional karena hanya melintas di perairan negara sahabatnya, Ukrainia.

Tentu saja kekuatan militer Ukraina yang menurut catatan Global Fire Power berada pada peringkat ke-25 bakal kewalahan jika menghadapi Rusia, peringkat ke-2 setelah AS. 

Dari segi anggaran pertahanan, Rusia juga jauh lebih unggul yakni US$42,1 miliar (Rp588 triliun) dibandingkan dengan Ukraina sebear US$9,6 juta (setara Rp134,4 triliun).

Rusia memiliki 1,1 juta personel aktif dan dua juta personel cadangan, sementara Ukraina hanya 255 ribu personel aktif dan  900 ribu personel cadangan.

Matra udara Rusia didukung sekitar 4.100 pesawat militer beragam jenis, sebaliknya AU Ukraina hanya memiliki 285 pesawat, hampir semuanya buatan Rusia atau warisan Uni Soviet.

Dari total pesawat militer itu, Rusia memiliki 789 pesawat tempur seperti (a.l. Sukhoi SU-35, SU-57,  MiG-31, TU-160),       4.450 helikopter, 538 heli serang seperti Hind MI-35 dan 130 pesawat misi khusus.

Sebaliknya AU Ukraina hanya mengoperasikan  42 pesawat tempur lawas eks-Soviet seperti Sukhoi SU-24  dan SU-25, lima pesawat misi khusus, 111 helikopter, dan 34 helikopter serang.

AD Rusia memiliki 13 ribu tank, 27.100 kendaraan lapis baja, 3.860 proyektor roket dan 6.540 artileri otomatis, sebaliknya  Ukraina dengan 2.430 tank, 11.435 kendaraan lapis baja, 785 artileri otomatis dan 550 peluncur roket.

AL Rusia memiliki 603 kapal perang a.l. satu kapal induk, 64 kapal selam, 11 kapal fregat, 85 kapal korvet dan 15 destroyer, sementara Ukraina hanya 25 kapal perang,  tidak memiliki kapal induk, kapal selam dan kapal perusak, hanya tujuh  fregat, belasan kapal patroli dan kapal-kapal pendukung.

Namun Ukraina tidak bisa dipandang sebelah mata, di belakangnya ada kekuatan NATO dipimpin AS dan  negara-negara eks- Pakta Warsawa seperti Polandia, Ceko dan Slowakia serta negara sempalan Soviet seperti Estonia, Lithuania dan  Latvia.

Perang antara AS bersama sekutu-sekutunya dan Rusia terkait isu Donbas agaknya tidak terjadi, mengingat kekuatan senjata pemusnah massal yang dimiliki kedua kubu akan membuat hancur lebur semua. (Kantor-kantor Berita Trans Nasional/ns)

 

 

 

 

Advertisement