CAIRO – Pengadilan Mesir, Selasa (21/11/2017), memerintahkan pembebasan pemimpin Ikhwanul Muslimin dan mantan menteri Mohamed Ali Bishr.
“Bishr telah ditahan selama lebih dari dua tahun setelah didakwa melakukan kontak rahasia dengan Norwegia dan terlibat dalam upaya pembunuhan terhadap seorang petugas pengadilan,” ungkap seorang sumber di pengadilan.
Kelompok Ikhwanul Muslimin dilarang di Mesir, Bishr pernah menjabat sebagai menteri pembangunan daerah di bawah Mohamed Morsi, presiden pertama yang terpilih secara demokratis di negara tersebut.
Morsi memeritah berusia pendek, lalu digulingkan dan ditangkap pada pertengahan 2013 dalam sebuah kudeta militer yang dipimpin oleh menteri pertahanan – sekarang presiden – Abdel-Fattah al-Sisi.
Mohamed al-Damati, pengacara Bishr mengatakan Selasa, keputusan pengadilan untuk membebaskan kliennya dengan pembebasan bersyarat – bersama lima orang lainnya – berarti Bishr harus menghabiskan beberapa jam sehari di sebuah kantor polisi setempat. Untuk periode yang belum ditentukan.
Dikutip dari Anadolu, pada akhir 2014, Jaksa Mesir menuduh enam orang, termasuk Bishr dan jurnalis Hassan al-Qabbani, telah melakukan komunikasi rahasia dengan pejabat negara Norwegia yang dituduh merugikan posisi politik, sosial dan ekonomi Mesir.





