Presiden Baru Korsel Moon Kedepankan Dialog

Presiden baru Korsel Moon Jae-in (64) dari Partai Demokrat

TERPILIHNYA calon presiden Korea Selatan dari Partai Demokrat Moon Jae-in (64) yang dikenal bersikap moderat terhadap Korea Utara diharapkan bisa meredam ketegangan antara kedua negara yang memuncak akhir-akhir ini.

Moon dalam pilpres yang diikuti 13 capres, Selasa (9/5), meraup 39,6 persen suara, sementara saingannya, kandidat  dari kubu konservatif Hong Joon-pyo meraih 26,2 persen suara, sedangkan kandidat dari Partai Rakyat mAhn Cheol-soo hanya berhasil mengumpulkan 12,9 persen suara.

Pilpres digelar setelah presiden wanita pertama di negeri ginseng itu, Park Geun-hye  dimakzulkan oleh Majelis Nasional (9/12) akibat terjerat skandal kolusi dan korupsi bernilai sekitar 60 juta dolar AS.           Park terbukti berkonspirasi dengan sobat lamanya, pengusaha swasta, Choi Soon-sil (60), dibantu  dua mantan asisten pribadinya.

Bagi Moon, kemenangannya dalam pemilu kali ini bisa dianggap sebagai “revanche”  setelah kekalahannya pada pemilu sebelumnya (2012) dari Park, bahkan sebagai aktivis di era tahun l970’an saat masih berstatus mahasiswa, ia pernah dipenjarakan oleh di era rezim Presiden Park Chung-hee, ayah dari Park Geun-hye.

Moon dalam janji kampanyenya ingin memperbaiki kondisi perekonomian negeri, termasuk dengan menciptakan setengah juta lapangan kerja baru guna menekan angka pengangguran penduduk berusia antara 15 sampai 29 tahun yang mencapai ll persen dari angkatan kerja.

Terkait hubungan dengan tetangga dan saudara serumpun Korut, diperkirakan Moon akan menghidupkan kembali kebijakan “Sunshine” yang sebelumnya diberlakukan oleh Presiden Kim Dae-jung (l998 – 2003), diteruskan oleh Presiden  Roh Moo-hyun (2003 – 2008).

Kebijakan ”Sinar Matahari” mengedepankan pendekatan dialog, uluran tangan dan investasi ke Korut guna membangun saling percaya antara kedua negara yang beseteru.

Pernyataan-pernyataan Moon sebelumnya juga menunjukkan ketidaksukaannya pada kehadiran dan campur tangan Amerika Serikat di negaranya.

Moon antara lain pernah menyatakan, tidak akan mau menjilat AS, dan ia juga mementang digelarnya sistem rudal anti rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defence) di Korsel untuk menghadapi kemungkinan ancaman serangan rudal dari Korut.

Sistem rudal anti rudal berharga satu milyar dollar AS atau sekitar Rp 13,3 triliun itu bekerja tanpa hulu ledak, dengan menyongsong kedatangan rudal lawan saat masih di ufuk tinggi.

Moon menganggap, sikap keras yang dilakukan pemimpin dari kubu konservatif untuk menekan Korut malah membuat negara itu lebih agresif meningkatkan program nuklirnya.

Selama ini Korut bergeming atas seruan atau tekanan internasional untuk menghentikan uji coba rudal balistik dan program nuklirnya dengan alasan hal itu perlu dilakukan demi pertahanan diri dan melindungi ancaman dari luar.

Sebaliknya, lawan-lawan Moon mempertanyakan pendekatan yang dilakukannya terhadap Korut, bahkan meragukan nasionalisme dan patriotismenya.

Dalam pidato perdana saat pelantikannya, Moon berjanji akan segera menuntaskan persoalan keamanan nasional, dengan menemui pempimpin AS, China dan Jepang, dan kalau perlu juga ke Korut.

“Saya akan lalukan apa yang saya bisa demi terwujudnya perdamaian di Semenanjung Korea, “janjinya.

Dengan terpilihnya Moon sebagai presiden baru Korsel, paling tidak, Semenanjung Korea yang sudah berada di ambang konflik terbuka, mungkin bisa dihindari. (AP/Reuters/NS).

 

 

 

 

 

 

Advertisement