KUNJUNGAN Raja Salman bin Abdulaziz bermakna dalam, mencerminkan tekad Arab Saudi dan RI mewujudkan wajah Islam moderat dan damai di tengah kehidupan bersama umat pemeluk agama lainnya serta semangat memerangi terorisme dan radikalisme.
Persoalan itu menjadi kontekstual, mengingat Arab Saudi sebagai pusat agama Islam, kedudukan Ka’bah sebagai kiblat serta Mekkah dan Madinah sebagai kota suci Islam, sedang bertransformasi menjadi negara modern, toleran dan terbuka.
Sementara Indonesia, negeri dihuni aneka suku bangsa yang dikenal ramah-tamah dan memiliki toleransi tinggi, namun kini terancam terpecah belah akibat ulah sebagian politisi dan oknum ulama yang memanfaatkan agama demi kepentingan politik dan kekuasaan.
Sejak beberapa bulan terakhir ini Pilkada DKI Jakarta telah dijadikan ajang perang oleh pihak-pihak tertentu untuk menghasut, mengadu domba massa serta melampiaskan ujaran kebencian atau melontarkan fitnah antara satu dan lainnya melalui media sosial.
Bagi perspektif hubungan antara Arab Saudi dan RI, kehadiran Raja Salman dan rombongan, telah berhasil memupus kesalahpahaman selain mempertebal saling pengertian serta mempererat sillaturahim kedua bangsa.
Dari sisi pemahaman ajaran Islam, di Indonesia masih ada orang yang menganggap Islam di Arab Saudi dipengaruhi aliran garis keras Wahabi, berbeda dengan Islam di Indonesia yang umumnya dinilai lebih moderat dan berakulturasi dengan warisan budaya lokal.
Walau tidak bisa diwujudkan dalam sekejap, mengingat sistem pemerintahan dinasti monarki turun temurun di negara itu, angin perubahan juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan politik. Misalnya, perempuan sudah diizinkan menyetir mobil, menjadi pimpinan perusahaan atau menjadi anggota parlemen.
Sejumlah pangeran dan kerabat kerajaan juga menuntut ilmu perguruan tinggi di luar negeri terutama di negara-negara Barat sehingga sudah berakulturasi saat pulang ke negeri asalnya.
Seperti yang diakui Wapres Jusuf Kalla, kunjungan Raja Salman mampu mengubah persepsi negatif sebagian kalangan di Indonesia terhadap Arab Saudi.
Wajah Islam moderat
Keterpihakan Raja Salman pada penguatan wajah Islam moderat tercermin pada pertemuan dengan lebih 30 tokoh Islam Indonesia di Jakarta, (2/2) . Pemerintah Arab Saudi dan RI juga menandatangani MOU berisi kerjasama penanggulangan terorisme dan radikalisme serta memelihara keragaman dan perbedaan.
Ibadah haji gratis yang diberikan Raja Salman bagi lima orang tua anggota Densus 88 Polri yang gugur dalam tugas dalam operasi melawan terorisme juga mencerminkan semangat Arab Saudi melawan tindak kejahatan yang menjadi musuh bersama itu.
Kerendahan hati dan sikap toleran juga ditunjukan Raja Salman, Penjaga dua kota suci Islam, Mekkah dan Madinah yang bertemu dan berdialog dengan tokoh-tokoh enam agama di Indonesia di Jakarta (3/2). Dalam tatap muka itu Raja Salman menyerukan agar umat beragama memperkuat nilai-nilai toleransi dengan terus menjalin komunikasi dan dialog.
Menurut Raja Salman, stabilitas yang dinikmati Indonesia saat ini merupakan buah semangat toleransi dan semangat seluruh lapisan masyarakat untuk hidup berdampingan.
“Setiap agama berupaya menjaga hak-hak manusia dan kebahagiaan mereka sehingga perang terhadap radikalisme dan ekstrimisme perlu dilancarkan, “ tandasnya.
Visi Arab Saudi 2030 intinya memuat antisipasi yang harus dilakukan oleh negara “petro dollar” itu menghadapi tantangan besar ke depan termasuk terjadinya perubahan peta geopolitik, sosial dan khususnya ekonomi akibat tren anjloknya harga minyak dunia akhir-akhir ini.
Nikmati Booming harga Minyak
Arab Saudi menikmati berkah “booming” lonjakan harga minyak selama beberapa dekade terakhir ini. Bayangkan saja, minyak yang pada era 1970-an dibandrol seharga dua dollar AS per barrel, menembus 100 dollar pasca Revolusi Eran di era ‘80an dan pernah bertengger sampai 147 dollar AS pada 2007.
Baru kemudian situasi berbalik, tren harga “emas hitam “ itu mulai merangkak turun menjadi 115 dollar pada 2015, bahkan anjlok sampai ke level 27 dollar pada Februari 2016 sebelum berada pada titik ekuilibrium di kisaran 50 dollar saat ini.
Anjloknya harga minyak menciptakan anggaran defisit lebih dari 150 milyar dollar AS bagi Arab Saudi dalam dua tahun terakhir ini, selain itu cadangan devisanya juga terkuras dari 746 milyar dollar AS pada 2014 turun menjadi 616 milyar dollar AS pada 2015.
Visi 2030 menekankan efisiensi,mengurangi ketergantungan pada ekploitasi migas, memanfaatkan posisi Arab Saudi sebagai pusat Islam dunia dan menggenjot investasi di Asia seperti Jepang, China, India dan menggali potensi negara-negara mayoritas Islam seperti RI, Brunei, Pakistan dan Malaysia.
Hubungan RI – Arab Saudi selama ini lebih kental terkait persoalan seputar TKI, mengingat ada 1,5 juta WNI baik yang legal maupun ilegal bermukim atau mengais nafkah di sana dan juga persoalan kuota haji akibat besarnya animo WNI untuk menunaikan ibadah haji setiap tahun.
Mungkin juga ulah Presiden AS Donald Trump yang kontroversial bahkan cenderung anti Islam, mendorong Arab Saudi mengurangi kedekatannya pada negara Paman Sam itu dengan menjalin kemitraan dengan negara-negara lain.
Bagi Indonesia, kunjungan Raja Salman telah sukses mempererat hubungan silaturahim kedua bangsa dan negara serta meningkatkan hubungan ekonomi, investasi dan penambahan kuota haji.
Lebih dari itu, yang tidak ternilai adalah tekad kedua negara menguatkan wajah Islam moderat, yang kehadirannya menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia, dan tekad untuk bahu-membahu memerangi terorisme dan radikalisme.





